Cobalah tengok bagaimana kisah tarzan; semua hal yang mungkin dapat menyulitkan dan menyengsarakan, ternyata hal yang mudah saja bagi sang tarzan. Karena ia memiliki kunci pokok untuk mengatasi semua masalah dan kebutuhannnya tersebut, yakni ilmu. Ya tarzan tahu ilmu tentang seluk beluk hutan dan cara mengatasinya.
Selasa, 21 April 2015
Bila Cemas Mendatangi Hati
Cobalah tengok bagaimana kisah tarzan; semua hal yang mungkin dapat menyulitkan dan menyengsarakan, ternyata hal yang mudah saja bagi sang tarzan. Karena ia memiliki kunci pokok untuk mengatasi semua masalah dan kebutuhannnya tersebut, yakni ilmu. Ya tarzan tahu ilmu tentang seluk beluk hutan dan cara mengatasinya.
Tidak Ada Kata “Pacaran” dalam Islam?
Judul buku : Udah Putusin Aja!
Penulis : Felix A. Siauw
Penerbit : Mizania (PT Mizan Pustaka)
Cetakan : Februari 2013
Tebal buku : 180 halaman
“Pacaran ‘kan masa penjajakan. Masa menikah dengan orang yang tidak dikenal?!”
“Kita ‘kan masih muda, masa ‘gak boleh pacaran?”
“Pacaran ‘gak ngapa-ngapain kok, cuma buat penyemangat belajar saja”
Kalimat-kalimat tersebut seringkali terlontar jika anak-anak muda
dilarang berpacaran, tapi bagaimana jika anak SD yang mengatakan hal
tersebut? Saat ini, banyak sekali fenomena anak SD yang sudah
berpacaran, bukan lagi sekedar “cinta monyet”. Cinta memang seringkali
tidak mengenal umur, tidak muda tidak tua semua pasti ingin merasakan
perasaan itu. Bagi beberapa kalangan sepertinya pacaran dianggap sebagai
tren, seperti anak baru gede alias ABG. Bagi mereka jika belum pernah
merasakan pacaran pasti akan dianggap cupu oleh teman-teman lainnya.
Banyak alasan yang terlontar ketika ditanyai tentang pacaran.
Sebagian bagi yang sudah berumur tentu beralasan jika pacaran merupakan
masa penjajakan yang mesti dilakukan sebelum menikah. Sayangnya alasan
tersebut tidak ada dalam ajaran agama islam sekalipun. Jika ingin
berhubungan maka mantapkanlah dalam sebuah hubungan pernikahan. Tidak
ada alasan apapun untuk berpacaran dalam islam. Hal ini secara tegas
ditulis dalam buku yang berjudul “Udah Putusin Aja!” oleh Felix A.
Siauw, seorang ustadz yang aktif berdakwah dan cukup terkenal di
kalangan anak muda. Lalu bagaimana Ustadz Felix berpendapat dan
menjelaskan pacaran dalam buku ini?
Minggu, 19 April 2015
IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)
Keberadaan IMM di perguruan tinggi Muhammadiyah telah diatur secara jelas dalam qoidah pada bab 10 pasal 39 ayat 3: "Organisasi Mahasiswa yang ada di dalam Perguruan Tinggi Muhammadiyah adalah Senat Mahasiswa dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)”. Sedangkan di kampus prguruan tinggi lainnya, IMM bergerak dengan status organisasi ekstra-kampus sama seperti Himpunan Mahasiswa Islam mapun KAMMI dengan anggota para mahasiswa yang sebelumnya pernah bersekolah di sekolah Muhammadiyah.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) didirikan di Yogyakarta pada tangal 14 Maret 1964, bertepatan dengan tanggal 29 Syawwal 1384 H. Dibandingkan dengan organisasi otonom lainya di Muhammadiyah, IMM paling belakangan dibentuknya. Organisasi otonom lainnya seperti Nasyiatul `Aisyiyah (NA) didirikan pada tanggal 16 Mei 1931 (28 Dzulhijjah 1349 H); Pemuda Muhammadiyah dibentuk pada tanggal 2 Mei 1932 (25 Dzulhijjah 1350 H); dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM, yang namanya diganti menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah [IRM]) didirikan pada tanggal 18 Juli 1961 (5 Shaffar 1381 H).
Kelahiran IMM dan keberadaannya hingga sekarang cukup sarat dengan sejarah yang melatarbelakangi, mewarnai, dan sekaligus dijalaninya. Dalam konteks kehidupan umat dan bangsa, dinamika gerakan Muhammadiyah dan organisasi otonomnya, serta kehidupan organisasi-organisasi mahasiswa yang sudah ada, bisa dikatakan IMM memiliki sejarahnya sendiri yang unik. Hal ini karena sejarah kelahiran IMM tidak luput dari beragam penilaian dan pengakuan yang berbeda dan tidak jarang ada yang menyudutkannya dari pihak-pihak tertentu. Pandangan yang tidak apresiatif terhadap IMM ini berkaitan dengan aktivitas dan keterlibatan IMM dalam pergolakan sejarah bangsa Indonesia pada pertengahan tahun 1960-an; serta menyangkut keberadaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada waktu itu.
Hymne IMM
Semoga berkah rahmat Ilahi
Melimpahi perjuangan kami
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Ikhlas beramal dan bakti
Melimpahi perjuangan kami
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Ikhlas beramal dan bakti
Gemilang sinar surya menyinari fajar harapan
Jayalah… IMM jaya
Abadi… perjuangan kami
Jayalah… IMM jaya
Abadi… perjuangan kami
IMMawati benteng Ikatan
Ketika kita menempatkan intelektual hanya sebatas pengetahuan semata, maka
yang ada adalah kekeliruan yang akan menjerumuskan seseorang untuk berpihak
kepada apa yang kuat dan bukan kepada apa yang benar atau disebut oleh Boni
Hargens sebagai intelektual tukang yang setiap analisisnya ditentukan
kepentingan kekuasaan dan ditakar dengan uang dengan kata lain mereka bekerja
untuk kepentingan politik-kekuasaan. Intelektual yang benar-benar intelektual
sejati adalah mereka yang bekerja untuk kepentingan ilmu pengetahun, kebenaran,
kebaikan bersama (bonum commune) atas landasan ilmu dan moralitas.
Senada dengan itu menurut Sarumpaet (2005) keberadaan dan perananan kaum
intelektual menjadi penting lantaran langkahnya punya dasar berpijak yang di
dalamnya menyimpan gagasan untuk perbaikan menghadapi masa depan. Maka, di mana
pun di dunia ini, kaum intelektual kerap bertindak sebagai pioner, perintis,
dan pemberi pencerahan atas kehidupan manusia.”
IMMawati Bangkit dalam berbagai Aspek kratifitas, sebagai motifator, penyiap alat perang, serta mampu menjaga aib Ikatan dalam situasi yang tegang.. ”IMMawati kedepan diharapkan mampu menjadi kreator-kreator sejati dengan membawa nilai-nilai profetisme gerakan dalam melakukan proses perubahan secara terpadu dan berkesinambungan, sehingga kedepan gerakan IMMawati mampu berakselerasi dengan kondisi zaman yang ada,
IMMawati Bangkit dalam berbagai Aspek kratifitas, sebagai motifator, penyiap alat perang, serta mampu menjaga aib Ikatan dalam situasi yang tegang.. ”IMMawati kedepan diharapkan mampu menjadi kreator-kreator sejati dengan membawa nilai-nilai profetisme gerakan dalam melakukan proses perubahan secara terpadu dan berkesinambungan, sehingga kedepan gerakan IMMawati mampu berakselerasi dengan kondisi zaman yang ada,
Teori dalam Psikologi
Teori Nativisme, Empirisme, dan Konvergensi
Sebagai landasan pendidikan Islam, maka al-Qur’an memiliki kedudukan sebagai qat’ī al-dalālah. Sedangkan hadis, ada yang qat’ī al-dalālah dan ada yang zannī al-dalālah.
Karena demikian halnya, maka yang harus dijadikan landasan pertama dan
utama dalam pendidikan Islam adalah al-Qur’an, di mana di dalamnya
banyak ditemukan ayat yang berkenaan dengan teori belajar-mengajar, dan
teori belajar-mengajar itu sendiri merupakan esensi dari pendidikan.
Di samping teori belajar mengajar, ada pula teori nativisme, empirisme,
dan konvergensi. Teori-teori ini erat kaitannya dengan teori belajar
mengajar yang bersumber dari aliran-aliran klasik dan merupakan benang
merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan masa lalu, kini,
dan mungkin yang akan datang. Aliran-aliran itu mewakili berbagai
variasi pendapat tentang pendidikan, mulai dari yang paling pesimis
sampai dengan yang paling optimis. Aliran yang paling pesimis memandang
bahwa pendidikan kurang bermanfaat, bahkan mungkin merusak bakat yang
telah dimiliki anak. Sedang sebaliknya, aliran yang sangat optimis
memandang anak seakan-akan tanah liat yang dapat dibentuk sesuka hati.
Banyak pemikiran yang berada di antara kedua kutub tersebut, yang
dipandang sebagai variasi gagasan dan pemikiran dalam pendidikan.
IMM Berhasil Terbentuk di Universitas Mulawarman
SAMARINDA
- Gerakan IMM Kaltim mulai menunjukan taringnya. Setelah mengupayakan
memperkokoh basis utama kader yang berada di Stikes Muhammadiyah. PC IMM
Samarinda yang di ketuai IMMawan Beny Susanto berhasil memekarkan IMM,
masuk kedalam Universitas Mulawarman. Universitas negeri yang berada di
Kota Samarinda. Kamis (9/4/2015), setelah beberapa minggu DPD IMM Kaltim
membuat agenda bertemu dengan Rektor.

