MEDIA ONLINE IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH BIMA

Jumat, 24 April 2015

Ideologi Muhammadiyah: Perspektif Kritis


“Religious suffering is, at one and the same time, the expression of real suffering and a protest against real suffering”
[Karl Marx  dalam “Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right”]

Seorang filsuf Jerman kenamaan, Karl Marx, menyampaikan bahwa, “Penderitaan agama, dalam suatu waktu tertentu, merupakan ekspresi dan perlawanan terhadap penderitaan yang sesungguhnya.” Iman yang benar, seringkali disampaikan secara mengesankan, dalam rangka memprotes kegetiran kemanusiaan.

Berbanding lurus dengan hal ini, Marx mengajukan kritik, “Die Religion … ist das Opium des Volkes!” (Agama adalah candu bagi rakyat). Dengan segala kekecewaan yang mendalam terhadap “institusi” keagamaan, penulis buku “Das Kapital: Kritik der politischen Ökonomie” (1867) ini memilih untuk tidak beragama sampai akhir hayatnya. Ia menganggap, tidak ada gunanya beragama bila tidak memberikan kontribusi apa pun bagi kemerosotan martabat kemanusiaan. Idenya, sesungguhnya dapat kita maklumi.
Fenomena Marx ini memberikan pelajaran bahwa, bukan berarti tidak ada institusi agama yang menuntun kepada iman dan keberpihakan terhadap kemanusiaan sekaligus. Di balik kekecewaan seorang atheis ini, secara psikoanalisis, masih terbersit pengharapan terhadap perjuangan agama. 45 tahun kemudian, di ruang dan waktu yang berbeda, lahirlah Persyarikatan Muhammadiyah.

ahmad dahlanMuhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 18 November 1918. Misi utamanya adalah menghimpun anggota untuk menjadi para pengikut Nabi Muhammad, yang siap berjuang untuk tegaknya agama dan kemanusiaan (Alfian, 1989). Sebagai institusi keagamaan, Muhammadiyah memiliki fungsi strategis mengupayakan perjuangan pemihakan kemanusiaan.

Konteks sosial saat itu, memang diwarnai dengan kemiskinan yang sangat memprihatinkan. Di bawah kolonialisme dan imperialisme Belanda, rakyat kecil mustahil mendapatkan martabatnya. Hari demi hari menjalani hidup, tanpa kepastian keadilan dan kesejahteraan. Harta, benda, jiwa, raga dan martabat tercerabut demi kepentingan para penjajah.

Kompleksitas penderitaan rakyat semakin tinggi, ketika kultur yang ada saat itu adalah feodalisme. Pemimpin setempat bukan membela rakyatnya, tetapi malah memeras dan merampas hak-hak rakyat, atas nama moral kerajaan. Di samping itu, kehidupan keagamaan yang ada, sangat syarat dengan mistik dan fatalisme yang merusak mental. Manifestasi Islam, dipenuhi dengan praktik ritual gaib yang tidak masuk akal. Pendek kata, dekadensi kemanusiaan terjadi secara merata, khususnya bagi kaum melarat.
Tentu saja hal ini menguras pikiran Dahlan. Sebagai ahli agama yang mengikuti ide-ide kritis intelektual Mesir seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, ia kemudian berijtihad. Baginya, tidak ada jalan lain kecuali melakukan perlawanan. Terinspirasi dari pesan-pesan kemanusiaan dalam Surat al-Ma’un, ia mulai melakukan propaganda ideologis kepada umat. “Kita hanyalah pendusta agama, bila belum memberikan kontribusi dan kemanfaatan di hadapan kemanusiaan.”

Lembaga Mahasiswa STAIM Kehilangan Eksistensi



DPM, dan BEM STAIM Bima Kehilangan Eksistensi

Pertanyaan terkait kinerja BEM dan DPM di STAIM Biam timbul dilingkungan mahasiswa. Hal ini berawal dari ketidak aktifannya para Pengurus Lembaga Tertinggi Mahasiswa di Ruang Lingkup STAIM Bima, Baik DPM maupun BEM sebagai Lembaga tertinggi Mahasiswa.

Fajrin (Sekretaris BPH DPM bagian G
BHO) 24/04/2015; Memberikan pernyataan bahwa ada sebab kenapa DPM dan BEM tidak serius dalam melaksaakan fungsi dan tugasnya, Pertama; Antar Lembaga BEM dan DPM tidak terjalinnya Keharmonisan baik secara internal maupun ekternal, Kedua; Lembag DPM khusunya telah kehilangan Konsep; hanya mengndalkan Visi-misi yang sampai hari ini Mahasiswa menaruh harapan untuk itu, selama ini tidak ada aktifitas – aktifitas yang mendukung untuk menaungi aspirasi mahasiswa, sedikitnya Ketua dan Sekjend DPM tidur nyeyak di Kos berbantalkan Angan-Angan yang ditimpah amanah.. entahlah..

Rabu, 22 April 2015

TANFIDZ MUKTAMAR IMM MEDAN 2012

ANGGARAN DASAR (AD)
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
MUQADDIMAH
“Dengan nama Allah yang Maha Pemurah, Maha Penyayang. Segala Puji bagi Allah yang mengasuh semesta alam, yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada engkau kami menyembah dan hanya kepada engkau kami memohon pertolongan. Tunjukanlah kami jalan yang lurus yakni jalan orang-orang yang telah engkau beri kenikmatan atas mereka, bukan jalan orang-orang yang engkau murkai atas mereka dan bukan jalan orang-orang yang  sesat”.
Bahwa sesunguhnya Islam adalah satu-satunya agama tauhid yang haq di sisi Allah dengan berprinsip pada aqidah tauhid dan membawa misi sebagai hudan rahmatan lil’alamin (petunjuk dan rahmat bagi sekalian alam). Oleh sebab itu, Islam harus ditegakan dan dilaksanakan dalam kehidupan bersama ditengah-tengah masyarakat. Hal tersebut merupakan sunnatullah bagi manusia, khususnya umat islam sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi ini.
Persyarikatan Muhammadiyah sebagai gerakan Dakwah Islam Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan Tajdid, adalah salah satu kreasi manusia Muslim dalam upaya menggerakan dan membimbing umat agar mampu melaksanakan fungsi dan perannya. Dalam rangka kelangsungan hakikat dan misinya, Muhammadiyah memerlukan tumbuhnya kader pelopor, pelangsung dan penyempurna cita-cita sekaligus sebagai stabilisator, dinamisator, dan gerakan perjuangannya.
Maka pada 29 Syawal 1384 H. bertepatan dengan tanggal 14 Maret 1964 M. didirikan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai salah satu organisasi otonom Muhammadiyah, yang merupakan wadah perjuangan untuk menghimpun, menggerakan dan membina potensi mahasiswa Islam guna meningkatkan peran dan tanggung jawabnya sebagai kader persyarikatan, kader umat dan kader bangsa, sehingga tumbuh kader-kader yang memiliki kerangka berpikir ilmu amaliyah dan kader amal ilmiah sesuai dengan Keperibadian Muhammadiyah, Kesemuanya itu dilaksanakan secara bersama dengan menjungjung tinggi musyawarah atas dasar iman dan taqwa serta hanya mengharap ridha Allah SWT.
Dengan dilandasi semangat ketaqwaan kepada Allah SWT, maka penyelengaraan organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) berpedoman kepada Anggaran Dasar sebagai berikut:

Selasa, 21 April 2015

Kata Motivasi

 Kata Bijak Hari ini

Jangan pernah sesali apa yang telah berlalu. Penyesalan hanya akan membuat kamu terhenti dan membuat kamu malas untuk lebih maju.

Jangan khawatir tentang masa-masa sulit karena beberapa hal yg paling indah dalam hidup kita berasal dari perubahan & kesalahan.

Ketika sahabatmu melakukan kesalahan, tak perlu memberitahu semua temanmu, karena bukan mereka yang akan memaafkan, tapi kamu.

Hargai kerjaan yang sudah di kerjakan oleh teman mu. Gimana kerjaan mu mau di hargai kalau saja belum bisa menghargai kerjaan orang lain.

Mulailah kebaikan dari diri sendiri. Cintai diri sendiri, perbaiki diri sendiri, dan maafkan diri sendiri.

Jadilah orang baik, maka di seluruh kehidupan Kamu akan dihadirkan kebaikan demi kebaikan oleh Tuhan

Semua keresahan di hati akan terhapus saat kamu mulai bisa memaafkan dan mengikhlaskan 

Jangan sekali-kali mempermainkan kepercayaan, sekali hilang tak akan mudah untuk mengembalikannya.

Perjalan Hidup

Menikmati Setiap Episode Hidup 
Oleh: Muh. Alifuddin

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-Ashr (103):1-3) 

Alhamdulillaahirabbil'aalamiin, Allahuma sh
alli 'ala Muhammad waala aalihi washaabihii ajmai'iin, Saudaraku yang budiman, langkah awal agar kita mampu menikmati setiap detik hidup ini, adalah dengan menumbuhkan sikap ridha (rela menerima kenyataan). Kebahagiaan dan kesedihan, keuntungan dan kerugian, akan terasa nikmat dengan sikap ridha. Mengapa demikian? 

Kesengsaraan hidup walaupun dihadapi dengan sikap dongkol uring-uringan, keluh kesah, tetap saja kenyataan sudah terjadi. Pendek kata, disesali ataupun tidak, ridha maupun terpaksa, tetap saja kenyataan itu sudah terjadi dan dialami. Jadi, lebih baik hati kita ridha menerimanya. 

Bila Cemas Mendatangi Hati

Hasil gambar untuk gambar hati Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad wa'ala aalihi washahbihii ajmai'iin. Saudaraku yang budiman, kita janganlah pernah bermimpi dapat hidup dengan tenang dan bahagia sekiranya kita belum memiliki ilmu yang benar untuk mengarungi belantara dunia yang penuh dengan jebakan, rintangan dan ancaman berbahaya ini. 

Cobalah tengok bagaimana kisah tarzan; semua hal yang mungkin dapat menyulitkan dan menyengsarakan, ternyata hal yang mudah saja bagi sang tarzan. Karena ia memiliki kunci pokok untuk mengatasi semua masalah dan kebutuhannnya tersebut, yakni ilmu. Ya tarzan tahu ilmu tentang seluk beluk hutan dan cara mengatasinya. 

Tidak Ada Kata “Pacaran” dalam Islam?


Anindita Damayanti (10321066)
Judul buku      : Udah Putusin Aja!
Penulis             : Felix A. Siauw
Penerbit           : Mizania (PT Mizan Pustaka)
Cetakan           : Februari 2013
Tebal buku      : 180 halaman

“Pacaran ‘kan masa penjajakan. Masa menikah dengan orang yang tidak dikenal?!”

“Kita ‘kan masih muda, masa ‘gak boleh pacaran?”
“Pacaran ‘gak ngapa-ngapain kok, cuma buat penyemangat belajar saja”

Kalimat-kalimat tersebut seringkali terlontar jika anak-anak muda dilarang berpacaran, tapi bagaimana jika anak SD yang mengatakan hal tersebut? Saat ini, banyak sekali fenomena anak SD yang sudah berpacaran, bukan lagi sekedar “cinta monyet”. Cinta memang seringkali tidak mengenal umur, tidak muda tidak tua semua pasti ingin merasakan perasaan itu. Bagi beberapa kalangan sepertinya pacaran dianggap sebagai tren, seperti anak baru gede alias ABG. Bagi mereka jika belum pernah merasakan pacaran pasti akan dianggap cupu oleh teman-teman lainnya.

Banyak alasan yang terlontar ketika ditanyai tentang pacaran. Sebagian bagi yang sudah berumur tentu beralasan jika pacaran merupakan masa penjajakan yang mesti dilakukan sebelum menikah. Sayangnya alasan tersebut tidak ada dalam ajaran agama islam sekalipun. Jika ingin berhubungan maka mantapkanlah dalam sebuah hubungan pernikahan. Tidak ada alasan apapun untuk berpacaran dalam islam. Hal ini secara tegas ditulis dalam buku yang berjudul “Udah Putusin Aja!” oleh Felix A. Siauw, seorang ustadz yang aktif berdakwah dan cukup terkenal di kalangan anak muda. Lalu bagaimana Ustadz Felix berpendapat dan menjelaskan pacaran dalam buku ini?