“Religious suffering is, at one and the same time, the expression of real suffering and a protest against real suffering”
[Karl Marx dalam “Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right”]
Berbanding lurus dengan hal ini, Marx mengajukan kritik, “Die Religion … ist das Opium des Volkes!” (Agama adalah candu bagi rakyat). Dengan segala kekecewaan yang mendalam terhadap “institusi” keagamaan, penulis buku “Das Kapital: Kritik der politischen Ökonomie” (1867) ini memilih untuk tidak beragama sampai akhir hayatnya. Ia menganggap, tidak ada gunanya beragama bila tidak memberikan kontribusi apa pun bagi kemerosotan martabat kemanusiaan. Idenya, sesungguhnya dapat kita maklumi.
Fenomena Marx ini memberikan pelajaran bahwa, bukan berarti tidak ada institusi agama yang menuntun kepada iman dan keberpihakan terhadap kemanusiaan sekaligus. Di balik kekecewaan seorang atheis ini, secara psikoanalisis, masih terbersit pengharapan terhadap perjuangan agama. 45 tahun kemudian, di ruang dan waktu yang berbeda, lahirlah Persyarikatan Muhammadiyah.
Konteks sosial saat itu, memang diwarnai dengan kemiskinan yang sangat memprihatinkan. Di bawah kolonialisme dan imperialisme Belanda, rakyat kecil mustahil mendapatkan martabatnya. Hari demi hari menjalani hidup, tanpa kepastian keadilan dan kesejahteraan. Harta, benda, jiwa, raga dan martabat tercerabut demi kepentingan para penjajah.
Kompleksitas penderitaan rakyat semakin tinggi, ketika kultur yang ada saat itu adalah feodalisme. Pemimpin setempat bukan membela rakyatnya, tetapi malah memeras dan merampas hak-hak rakyat, atas nama moral kerajaan. Di samping itu, kehidupan keagamaan yang ada, sangat syarat dengan mistik dan fatalisme yang merusak mental. Manifestasi Islam, dipenuhi dengan praktik ritual gaib yang tidak masuk akal. Pendek kata, dekadensi kemanusiaan terjadi secara merata, khususnya bagi kaum melarat.
Tentu saja hal ini menguras pikiran Dahlan. Sebagai ahli agama yang mengikuti ide-ide kritis intelektual Mesir seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, ia kemudian berijtihad. Baginya, tidak ada jalan lain kecuali melakukan perlawanan. Terinspirasi dari pesan-pesan kemanusiaan dalam Surat al-Ma’un, ia mulai melakukan propaganda ideologis kepada umat. “Kita hanyalah pendusta agama, bila belum memberikan kontribusi dan kemanfaatan di hadapan kemanusiaan.”


