MEDIA ONLINE IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH BIMA

Rabu, 01 Mei 2013

Sejarah Filsafat

Sejarah Filsafat: Masa Pertengahan (Patristik & Skolastik)

A.    Pendahuluan
Sejarah filsafat Abad Pertengahan dimulai kira-kira pada abad ke-5 sampai awal abad ke-17. Para sejarawan umumnya menentukan tahun 476, yakni masa berakhirnya Kerajaan Romawi Barat yang berpusat di kota Roma dan munculnya Kerajaan Romawi Timur yang kelak berpusat di Konstantinopel (sekarang Istambul), sebagai data awal zaman Abad Pertengahan dan tahun 1492 (penemuan benua Amerika oleh Columbus) sebagai data akhirnya. [1]
Masa ini diawali dengan lahirnya filsafat Eropa. Sebagaimana halnya dengan filsafat Yunani yang dipengaruhi oleh kepercayaan, maka filsafat atau pemikiran pada Abad Pertengahan pun dipengaruhi oleh kepercayaan Kristen. Artinya, pemikiran filsafat Abad Pertengahan didominasi oleh agama. Pemecahan semua persoalan selalu didasarkan atas dogma agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya bersifat teosentris.
Tuhan mencipta alam semesta serta waktu dari keabadian, gagasan penciptaan tidak bertentangan dengan alam abadi. Kitab suci mengajarkan bahwa alam semesta berawal mula, tetapi filsafat tidak membuktikan hal itu, seperti halnya filsafat juga tidak dapat membuktikan bahwa alam semesta tidak berawal mula.[2]
  Adapun istilah Abad Pertengahan sendiri (yang baru muncul pada abad ke-17) sesungguhnya hanya berfungsi membantu kita untuk memahami zaman ini sebagai zaman peralihan (masa transisi) atau zaman tengah antara dua zaman penting sesudah dan sebelumnya, yakni Zaman Kuno (Yunani dan Romawi) dan Zaman Modern yang diawali dengan masa Renaissans pada abad ke-17.
Dengan demikian, bentangan waktu seribu tahun sejarah filsafat Barat Kuno (Yunani dan Romawi) yang sudah kita bahas dilanjutkan dengan masa seribu tahun sejarah filsafat Abad Pertengahan yang akan kita bahas dalam makalah kami ini.
Periode abad pertengahan mempunyai perbedaan yang mencolok dengan abad sebelumnya. Perbedaan ini terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama kristen pada permulaan abad masehi membawa perubahan besar terhadap kepercayaan agama. Zaman pertengahan adalah zaman keemasan bagi kekristenan.[3]  Disinalah yang menjadi persoalan nya, karena agama kristen itu mengajarkan bahwa wahyu tuhanlah yang merupakan kebenaran sejati. Hal ini berbeda dengan pandangan yunani kuno mengatakan bahwa kebanaran dapat di capai oleh kemampuan akal.[4]


B.     Ciri Filsafat Abad Pertengahan
Filsafat Abad Pertengahan dicirikan dengan adanya hubungan erat antara agama Kristen dan filsafat.[5] Dilihat secara menyeluruh, filsafat Abad Pertengahan memang merupakan filsafat Kristiani. Para pemikir zaman ini hampir semuanya klerus, yakni golongan rohaniwan atau biarawan dalam Gereja Katolik (misalnya uskup, imam, pimpinan biara, rahib), minat dan perhatian mereka tercurah pada ajaran agama kristiani.
Akan tetapi, orang akan sungguh-sungguh salah paham jika memandang filsafat Abad Pertengahan semata-mata sebagai filsafat yang melulu berisi dogma atau anjuran resmi Gereja. Sebab, sebagaimana nanti akan kita lihat, tema yang selalu muncul dalam sejarah filsafat Abad Pertengahan adalah hubungan antara iman yang berdasarkan wahyu Allah sebagaimana termaktub dalam kitab suci dan pengetahuan yang berdasarkan kemampuan rasio manusia. Dan, dalam hal ini, tidak semua pemikir abad pertengahan mempunyai jawaban yang akur.
Adanya beragai macam aliran pemikiran yang mengkaji tema tersebut menunjukkan bahwa para pemikir pada zaman itu ternyata bisa berargumentasi secara bebas dan mandiri sesuai dengan keyakinannya. Kendati tidak jarang mereka, karena ajarannya, harus berurusan dan bentrok dengan para pejabat gereja sebagai otoritas yang kokoh dan terkadang angkuh pada masa itu. Oleh karena itu, kiranya dapat dikatakan bahwa filsafat abad pertengahan adalah suatu filsafat agama dengan agama kristiani sebagai basisnya.
Periode abad pertengahan mempunyai perbedaan yang menyolok dengan abad sebelumnya. Perbedaan itu terutama terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama Kristen yang diajarkan oleh nabi isa pada permualaan abad masehi membawa perubahan besar terhadap kepercayaan keagamaan.
Agama Kristen menjadi problema kefilsafatan karena mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan kebenaran yang sejati. Hal ini berbeda dengan pendangan yunani kuno yang mengatakan bahwa kebanaran dapat dicapai oleh kemampuan akal. Mereka belum mengenal adanya wahyu.
Mengenai sikap terhadap pemikiran Yunani ada dua:[6]
1.      Golongan yang menolak sama sekali pemikiran Yunani, karena pemikiran Yunani merupakan pemikiran orang kafir karena tidak mengakui wahyu.
2.      Menerima filsafat yunani yang mengatakan bahwa karena manusia itu ciptaan Tuhan maka kebijaksanaan manusia berarti pula kebijaksanaan yang datangnya dari Tuhan. Mungkin akal tidak dapat mencapai kebanaran yang sejati. Oleh karena itu, akal dapat dibantu oleh wahyu.

1.      Periode-periode pada abad pertengahan
Sejarah filsafat abad pertengahan dibagi menjadi dua zaman atau periode, yakni periode pratistik dan periode skolastik .[7]
a.      Patristik (100-700)
Patristik berasal dari kata Latin Patres yang berarti bapa-bapa greja, ialah ahli agama kristen pada abad permulaan agama kristen.[8]
Didunia barat agama katolik mulai tersebar dengan ajaranya tentang tuhan, manusia dan etikanya. Untuk mempertahankan dan menyebarkanya maka mereka menggunakan filsafat yunani dan memperkembangkanya lebih lanjut, khususnya menganai soal soal  tentang kebebasan manusia, kepribadian, kesusilaan, sifat tuhan. Yang terkenal Tertulianus (160-222), origenes (185-254), Agustinus (354-430),  yang sangat besar pengaruhnya (De Civitate Dei).
Pratistik berasal dari kata latin prates yang berarti Bapa-Bapa Gereja, ialah ahli agama Kristen pada abad permulaan agama Kristen. Zaman ini muncul pada abad ke-2 sampai abad ke-7, dicirikan dengan usaha keras para Bapa Gereja untuk mengartikulasikan, menata, dan memperkuat isi ajaran Kristen serta membelanya dari serangan kaum kafir dan bid’ah kaum Gnosis. Bagi para Bapa Gereja, ajaran Kristen adalah filsafat yang sejati dan wahyu sekaligus. Sikap para Bapa Gereja terhadap filsafat yunani berkisar antara sikap menerima dan sikap penolakan. Penganiayaan keji atas umat Kristen dan karangan-karangan yang menyerang ajaran Kristen  membuat para bapa gereja awal memberikan reaksi pembelaan (apologia) atas iman Kristen dengan mempelajari serta menggunakan paham-paham filosofis.
Akibatnya, dalam perjalanan waktu, terjadilah reaksi timbal balik, kristenisasi helenisme dan helenisasi kristianisme. Maksudnya, untuk menjelaskan dan membela ajaran iman Kristen, para Bapa Gereja memakai filsafat Yunani sebagai sarana (helenisme”di kristenkan”). Namun, dengan demikian, unsur-unsur pemikran kebudayaan helenisme, terutama filsafat Yunani, bisa masuk dan berperan dalam bidang ajaran iman Kristen dan ikut membentuknya (ajaran Kristen “di Yunanikan” lewat gaya dan pola argumentasi filsafat yunani). Misalnya, Yustinus Martir melihat “Nabi dan Martir” kristus dalam diri sokrates. Sebaliknya, bagi Tertulianus (160-222), tidak ada hubungan antaraAthena (simbol filsafat) dan Yerussalem (simbol teologi ajaran kristiani). Bagi Origenes (185-253) wahyu ilahi adalah akhir dari filsafat manusiawi yang bisa salah. Menurutnya orang hanya boleh mempercayai sesuatu sebagai kebenaran bila hal itu tidak menyimpang dari trasdisi gereja dan ajaran para rasul. Pada abad ke-5, Augustinus (354-430) tampil. Ajarannya yang kuat dipengaruhi neo-platonisme merupakan sumber inspirasi bagi para pemikir abad pertengahan sesudah dirinya selama sekitar 800 tahun.
Zaman Patristik ini mengalami dua tahap:[9]
1.    Permulaan agama Kristen. Setelah mengalami berbagai kesukaran terutama mengenai filsafat Yunani maka agama Kristen memantapkan diri. Keluar memperkuat gereja dan ke dalam menetapkan dogma-dogma.
2.    Filsafat Augustinus yang merupakan seorang ahli filsafat yang terkenal pada masa patristik. Augustinus melihat dogma-dogma sebagai suatu keseluruhan.
Setelah berakhirnya zaman sejarah filsafat Barat Kuno dengan ditutupnya Akademia Plato pada tahun 529 oleh Kaisar Justinianus, karangan-karangan peninggalan para Bapa Gereja berhasil disimpan dan diwariskan di biara-biara yang , pada zaman itu dan berates-ratus tahun sesudahnya, praktis menjadi pusat-pusat intelektual berkat kemahiran para biarawan dalam membaca, menulis, dan menyalinnya ke dalam bahasa Latin-Yunani serta tersedianya fasilitas perpustakaan.
b.      Skolastik 800-1500
Zaman Skolastik dimulai sejak abad ke-9. Kalau tokoh masa Patristik adalah pribadi-pribadi yang lewat tulisannya memberikan bentuk pada pemikiran filsafat dan teologi pada zamannya, para tokoh zaman Skolastik adalah para pelajar dari lingkungan sekolah-kerajaan dan sekolah-katedral yang didirikan oleh Raja Karel Agung (742-814) dan kelak juga dari lingkungan universitas dan ordo-ordo biarawan.
Dengan demikian, kata “skolastik” menunjuk kepada suatu periode di Abad Pertengahan ketika banyak sekolah didirikan dan banyak pengajar ulung bermunculan. Namun, dalam arti yang lebih khusus, kata “skolastik” menunjuk kepada suatu metode tertentu, yakni “metode skolastik”.
Dengan metode ini, berbagai masalah dan pertanyaan diuji secara tajam dan rasional, ditentukan pro-contra-nya untuk kemudian ditemukan pemecahannya. Tuntutan kemasukakalan dan pengkajian yang teliti dan kritis atas pengetahuan yang diwariskan merupakan ciri filsafat Skolastik.
Sesudah agustinus: keruntuhan. Satu-satunya pemukir yang tampil kemuka ialah: Skotus Erigena (810-877). Kemudian: Skolastik, disebut demikian karena filsafat diajarkan pada universitas-universitas (sekolah) pada waktu itu. Persoalan-persoalan: tentang  pengertian-pengertian umum (pengaruh plato). Filsafat mengabdi pada theologi. Yang terkenal: Anselmus (1033-1100), Abaelardus (1079-1142).[10] Periode ini terbagi menjadi tiga tahap:[11]
1.      Periode Skolstik awal (800-120)
Ditandai dengan pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat.[12] Ditandai oleh pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat. Yang tampak pada permulaan ialah persoalan tentang universalia. Ajaran Agustinus dan neo-Platonisme mempunyai pengaruh yang luas dan kuat dalam berbagai aliran pemikiran.
Pada periode ini, diupayakan misalnya, pembuktian adanya Tuhan berdasarkan rasio murni, jadi tanpa berdasarkan Kitab Suci (Anselmus dan Canterbury). Selanjutnya, logika Aristoteles diterapkan pada semua bidang pengkajian ilmu pengetahuan dan “metode skolastik” dengan pro-contra mulai berkembang (Petrus Abaelardus pada abad ke-11 atau ke-12). Problem yang hangat didiskusikan pada masa ini adalah masalah  universalia dengan konfrontasi antara “Realisme” dan “Nominalisme” sebagai latar belakang problematisnya. Selain itu, dalam abad ke-12, ada pemikiran teoretis mengenai filsafat alam, sejarah dan bahasa, pengalaman mistik atas kebenaran religious pun mendapat tempat.
Pengaruh alam pemikiran dari Arab mempunyai peranan penting bagi perkembangan filsafat selanjutnya. Pada tahun 800-1200, kebudayaan Islam berhasil memelihara warisan karya-karya para filsuf dan ilmuwan zaman Yunani Kuno. Kaum intelektual dan kalangan kerajaan Islam menerjemahkan karya-karya itu dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Maka, pada para pengikut Islam mendatangi Eropa (melalui Spanyol dan pulau Sisilia) terjemahan karya-karya filsuf Yunani itu, terutama karya-karya Aristoteles sampai ke dunia Barat. Dan salah seorang pemikir Islam adalah Muhammad Ibn Rushd (1126-1198). Namun jauh sebelum Ibn Rushd, seorang filsuf Islam bernama Ibn Sina (980-1037) berusaha membuat suatu sintesis antara aliran neo-Platonisme dan Aristotelianisme.
Dengan demikian, pada gilirannya nanti terbukalah kesempatan bagi para pemikir kristiani Abad Pertengahan untuk mempelajari filsafat Yunani secara lebih lengkap dan lebih menyeluruh daripada sebelumnya. Hal ini semakin  didukung dengan adanya biara-biara yang antara lain memeng berfungsi menerjemahkan, menyalin, dan memelihara karya sastra.
2.      Periode puncak perkembangan skolastik (abad ke-13)
Periode puncak perkembangan skolastik : dipengaruhi oleh Aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat Arab dan yahudi.[13] Filsafat Aristoteles memberikan warna dominan pada alam pemikiran Abad Pertengahan. Aristoteles diakui sebagai Sang Filsuf, gaya pemikiran Yunani semakin diterima, keluasan cakrawala berpikir semakin ditantang lewat perselisihan dengan filsafat Arab dan Yahudi. Universitas-universitas pertama didirikan di Bologna (1158), Paris (1170), Oxford (1200), dan masih banyak lagi universitas yang mengikutinya. Pada abad ke-13, dihasilkan suatu sintesis besar dari khazanah pemikiran kristiani dan filsafat Yunani. Tokoh-tokohnya adalah Yohanes Fidanza (1221-1257), Albertus Magnus (1206-1280), dan Thomas Aquinas (1225-1274). Hasil sintesis besar ini dinamakan summa (keseluruhan).
3.      Periode Skolastik lanjut atau akhir (abad ke-14-15)
Periode skolastik Akhir abad ke 14-15 ditandai dengan pemikiran islam yang berkembang kearah nominalisme ialah aliran yang berpendapat bahwa universalisme tidak memberi petunjuk tentang aspek yang sama dan yang umum mengenai adanya sesuatu hal. Kepercayaan orang pada kemampuan rasio member jawaban atas masalah-masalah iman mulai berkurang. Ada semacam keyakinan bahwa iman dan pengetahuan tidak dapat disatukan. Rasio tidak dapat mempertanggungjawabkan ajaran Gereja, hanya iman yang dapat menerimanya.
Salah seorang yang berfikir kritis pada periode ini adalah Wiliam dari Ockham (1285-1349). Anggota ordo Fransiskan ini mempertajam dan menghangatkan kembali persoalan mengenai nominalisme yang dulu pernah didiskusikan. Selanjutnya, pada akhir periode ini, muncul seorang pemikir dari daerah yang sekarang masuk wilayah Jerman, Nicolaus Cusanus (1401-1464). Ia menampilkan “pengetahuan mengenai ketidaktahuan” ala Sokrates dalam pemikiran kritisnya:”Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dapat ku ketahui bukanlah Tuhan”. Pemikir yang memiliki minat besar pada kebudayaan Yunani-Romawi Kuno ini adalah orang yang mengatur kita memasuki zaman baru, yakni zaman Modern, yakni zaman Modern yang diawali oleh zaman Renaissans, zaman “kelahiran kembali” kebudayaan Yunani-Romawi di Eropa mulai abad ke-16.
Baru sesudah tahun 1200 filsafat berkembang kembali berkat pengaruh filsafat araab yang diteruskan ke Eropa.

c.       Fisafat arab
Berkat pengaruh Helenisme (iskandar), filsafat yunani hidup terusdi Siria, diperkembangkan lebih lanjut oleh filusuf-filusuf Arab, kemudian diteruskan  ke Eropa melalui sepanyol.[14]
a)    Alkindi (800-870) satu-satunya orang arab asli. Corak filsafatnya ialahpemikiran kembali dari ciptaan Yunani (menterjemahkan 260 buku Yunani) dalam bentuk bebas dengan refleksinya dengan iman islam
b)   Alfarabi (872-950), filusuf muslim dalam pangkal filsafatnya dari Plotinus.
c)    Al-Ghazali (1059-1111) filusuf besar islam yang mengarang Ihya Ulumuddin, di Spanyol
d)   Ibnu sina (avicena)(980-1037) yang besar pengaruhnya terhadap filsafat barat, sejak usia 10 tahun sudah hafal Al-Qur’an.
e)    Ibnu Bajjah (1138), penafsiran karya fisik dan metafisik Aristoteles.
f)    Ibnu Rushd (Averros) (1126-1198) yang disebut jiga penafsir Arostoteles dan yang sangat berpengaruh terhadap aliran-aliran di Eropa, jiga seorang filusuf besar Muslim.
g)   Avencebrol (ibnu Gebol) (1020-1070)
h)   Main monides (moses bin maimon) (1135-1204)

d.   Zaman Keemasan
Perkembangan baru karena adanya universitas-universitas (paris), karangan karangan Aristoteles mulai  dikenal umum melalui filusuf-filusuf arab dan Yunani.[15]
a)    Pengikut-pengikut Agustinus : sigerbonafenturant
b)   Pengikut-pengikut ibn Rushd: Siger dari Barabant (1235-1281).
c)    Pengikut-pengikut Aristoteles : Albertus Magnus (1206-1280), dan muridnya; Thomas Aquinas (1225-1274), yang berhasil menemukan sintesis antara Aristoteles—Plato— Agustinus dan skolastik.
Perbedaan agama dan filsafat  dan sintesisnya, pemecahan soal-soal besar tentang pengetahuan, tentang “ada” dan dasarnya tentang etika. Pengaruhnya sampai sekarang masih sangat kuat.
Disamping aliran-aliran ini terdapat juga ;
1)   Aliran Neo-platonis: Roger Bacon (1210-1292).
2)   Aliran empirisme (pengaruh Aristoteles), yang membela kaidah ilmu pasti dalam ilmu pengetahuan dan penyelidikan berdasarkan eksperimen-eksperimen.
3)   Duns-Scotus (1270-1308) pembahasan yang tajam, perimtis jalan bagi filsafat abad ke XIV, positivitas (hanya apa yang kongkrit yang dapat dilihat dan yang dapat diraba dan dapat dimengerti) dan voluntaristis (lebih mementingkan kehendak dari pada pikiran)
4)   W. Ockham (1550) yang meneruskan ajaran Scotus: tentang pengetahuan: konseptualitas (lihat logika: pengertian-pengertian umum tidak “benar” sesuai dengan kenyataan)

e.    Zaman Peralihan: 1400-1550
Renaissence, perkambangan humanisme, pertentangan besar antara tradisi dan kemajuan. Perkembangan baru dari sistem-sistem lama (Plato—Aristoteles, Stoa) dan usaha mencari sintesis sintesis baru. Persoalan yang terbesar ialah hubungan antara ilmu pengetahuan dan Agama.


C.    Kesimpulan
Zaman pertengahan ialah zaman dimana Filsafat Abad Pertengahan dicirikan dengan adanya hubungan erat antara agama Kristen dan filsafat. Dilihat secara menyeluruh, filsafat Abad Pertengahan memang merupakan filsafat Kristiani. Para pemikir zaman ini hampir semuanya klerus, yakni golongan rohaniwan atau biarawan dalam Gereja Katolik (misalnya uskup, imam, pimpinan biara, rahib), minat dan perhatian mereka tercurah pada ajaran agama kristiani.
Sejarah filsafat abad pertengahan dibagi menjadi dua zaman atau periode, yakni periode pratistik dan periode skolastik .



DAFTAR PUSTAKA

Mustansyir, Rizal. (2009). Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Belajar Offset
Salam, Burhanuddin. (1995). Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara
Surajiyo. (2005). Ilmu filsafat suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara
Muzairi. (2009). Filsafat Umum. Yogyakarta: Teras
Petrus, Simon. (2004). Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius
Tafsir, Ahmad. (2010). Filsafat Umum.  Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Suriasumantri, jujun S. (2009). Filsafat Ilmu sebuah pengantar populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan


Filsafat

Sejarah Filsafat Yunani

P E N D A H U L U A N

Mempelajari filsafat yunani berarti menyaksikan kelahiran filsafat. Filsafat dilahirkan karena kemenangan akal atas dongeng-dongeng atau mite-mite yang diterima dari agama, yang memberitahukan tentang asal mula segala sesuatu, baik dunia maupun manusia. Akal manusia tidak puas dengan keterangan dongeng-dongeng atau mite-mite itu, karena tidak dapat dibuktikan oleh akal. Kebenarannya hanya dapat diterima oleh iman atau kepercayaan. Para filsuf yang pertama adalah orang-orang yang mulai meragukan cerita mite-mite dan mulai mencari-cari dengan akalnya dari mana asal alam semesta yang menakjubkan itu. Sudah barang tentu kemenangan akal atas mite-mite itu tidak mungkin terjadi dengan tiba-tiba. Kemenangan itu diperoleh secara berangsur-angsur, berjalan hingga berabad-abad.

Awal pergumulan akal dengan mite-mite itu terjadi pada kira-kira abad ke-6 SM. Pergumulan itu umpamanya demikian: menurut mite pelangi atau bianglala adalah seorang dewa atau dewi (menurut orang jawa : tangga temapat para bidadari turun dari sorga). Akan tetapi Xenophanes mengemukakan pendapatnya , bahwa pelangi adalah awan, sedang Anaxagoras berpendapat, bahwa pelangi adalah pemantulan matahari pada awan. Jelaslah bahwa pendapat kedua orang ini bukan karena mite, melainkan karena pengguanaan aka, yang mendekati gejala pelangi dengan pikirannya. Pendekatan yang rasional demikian itu menghasilkan suatu pendapat yang dapat dikontrol, dapat diteliti akal dan dapat diperdebatkan kebenarannya. Cara berpikir yang demikian inilah cara berfilsafat.

Para pemikir pertama filsafati yang pertama hidup di Miletos, kira-kira pada abad ke-6 SM. Bagaimana percisnya ajaran mereka, sukar ditetapkan, sebab sebelum plato tidak ada hasil karya para filsuf itu yang telah seutuhnya dibukukan. Pengetahuan kita tentang apa yang mereka pikirkan, disimpulkan dari potongan-potongan, yang diberitakan oleh orang-orang yang hidup lebih kemudian daripada mereka. Dapat dikatakan bahwa mereka adalah filsuf-filsuf alam, artinya: mereka adalah para ahli pikir yang menjadikan alam yang luas dan penuh keselarasan ini menjadi sasaran pemikiran mereka. Karena mereka ditakjubkan oleh alam yang penuh keanekaragaman dan gerak ini, mereka menanyakan kepada soal apa yang ada dibelakang semua itu.
Akan tetapi sasaran yang diselidiki para filsuf pertama ini lebih luas dibanding dengan sasaran yang biasanya diselidiki oleh filsafat pada zaman sekarang. Pemikiran mereka mencakup segala sesuatu yang dapat dipikirkan akal. Filsafat mereka meliputi segala sesuatu yang sekarang disebut ilmu pengetahuan, yaitu ilmu pasti, ilmu alam, ilmu bintang-bintang, ilmu hayat, ilmu kedokteran dan politik. Jadi pada waktu itu belum ada pemisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan khusus seperti yang terjadi pada zaman sekarang.

Demikianlah yang diperhatikan oleh para ahli pikir yang pertama di Miletos itu adalah alam, bukan manusia. Hanya saja harus diingat, bahwa yang dimaksud dengan alam (fusis) adalah seluruh kenyataan hidup dan kenyataan badaniah. Jadi pemikiran mereka dicurahkan kepada apa yang dapat diamati. Banyak sekali pernyataan-pernyataan mereka yang mengenai gejala-gejala alam. Bahwa perhatian yang besar kepada gejala-gejala alam itu bersifat filsafati, bukan bersifat keagamaan atau perhatian biasa, tampak disini, bahwa mereka mencari asas pertama (arkhe), tempat segala yang ada didirikan. Ini bukan pemikiran bersahaja, sebab maksud mereka adalah menemukan asas pertama segala sesuatu atau mencari hal yang mutlak, yang berada dibelakang yang serba berubah ini. Mereka mencari yang hakiki, dasar yang ada dibelakang segala gejala.

SARI SEJARAH FILSAFAT PARMENIDES – EPIKUROS
1. Parmenides (540 – 475), yang dilahirkan di Elea.
Jikalau Herakleitos mengajarkan, bahwa hakekat segala kenyataan adalah perubahan, maka Parmenides menentangnya dan mengemukakan, bahwa kenyataan bukanlah gerak dan perubahan, melainkan keseluruhan yang bersatu, yang tidak bergerak, yang tidak berubah.
Arti besar parmenides adalah ialah, bahwa ia menemukan secara mendalam idea atau gagasan tentang “ada” . gagasan ini dituangkan dalam suatu syair tentang alam, yang isinya terdiri dari pendahuluan dan dua bagian.
Didalam pendahuluan dijelaskan bagaimana yang ilahi telah memberikan kebenaran kepadanya. Selanjutnya dikatakan, bahwa ada dua jalan mendapatkan pengetahuan, yaitu : jalan yang benar dan jalan yang sesat. Jalan yang sesat, yang menipu, member pengetahuan yang semu.
Adapun pengetahuan yang semu adalah segala pengetahuan yang telah dimiliki orang hingga saat ini, yaitu pengetahuan yang gagasan dasarnya adalah kejamakan dan perubahan. Pengetahuan ini disebabkan oleh penipuan indera manusia.
Di dalam bagian pertama syairnya, dibicarakan hal kenyataan yang benar. Kenyataan yang benar ini hanya dapat diketahui dengan akal, bukan dengan pengamatan indera.
Menurut Parmenides “yang ada itu” . inilah yang disebut kebenaran yang tidak mungkin diungkiri. Mengenai “yang ada” orang dapat mengemukakan dua pengandaian. Orang dapat mengemukakan, bahwa “yang ada” itu tidak ada, atau bahwa “yang ada” itu sekaligus ada dan tidak ada. Kedua pengandaian ini salah, sebab mustahil, bahwa “yang ada” itu tidak ada, atau bahwa “yang ada” itu sekaligus ada dan tidak ada. Mustahil bahwa “yang ada” itu tidak ada, dan bahwa “yang tidak ada” itu ada. “yang tidak ada” justru tidak ada, dan “yang tidak ada” mustahil dapat dipikirkan atau dibicarakan. Yang dapat dipikirkan dan dibicarakan hanya “yang ada” saja. Jelaslah bahwa “yang ada itu ada” dan “yang tidak ada itu tidak ada”. Jalan tengah tidak mungkin. “yang ada” tidak mungkin menjadi “tidak ada”, dan “yang tidak ada” tidak mungkin menjadi ada.
Oleh karena “yang tidak ada” tidak dapat dipikirkan, maka berada dan berpikir adalah sama, identik.
Jikalau “yang ada” demikian itulah adanya, maka “yang ada” tidak boleh tidak tentu satu, tidak terbagi, tidak berawal dan berakhir, tidak dapat muncul daripada “yang tidak ada”, dan tidak akan menjadi tidak ada. Tiada masa lampau dan masa depan bagi “yang ada”, keadaaannya hanya “sekarang” semata-mata. Yang ada tidak dapat dibagi-bagi, tentu akan ada banyak “yang ada”, aka nada kejamakan. Yang ada ini juga tidak berubah, sebab perubahan mengandaikan di dalamnya hal yang tidak ada.
Pemikiran Parmenides ini adalah suatu pandangan yang genial. Pikirannya dituntaskan secara konsekuen. Baginya kenyataan adalah suatu kesatuan, tanpa pembedaan anatara segi yang rohani dan yang jasmani. Akibatnya, yang ada itu disamakan dengan sesuatu yang bulat, yang tidak memerlukan tambahan, tetapi yang mengambil ruang. Oleh karena itu ia mengatakan, bahwa tiada ruang kosong, sebab seandainya ada ruang kosong, diluar yang ada masih ada sesuatu yang lain lagi.
Para filsuf dari elea yang kemudian daripada Parmenides berusaha untuk mempertahankan kesatuan ada dan sifat ada yang tidak dapat berubah.

2. Zeno dari Elea, yang lahir pada kira-kira tahun 490 SM, adalah murid Parmenides, yang coba membuktikan , bahwa gerak adalah suatu khayalan, dan bahwa tiada kejamakan serta tiada ruang kosong.
Ada bermacam-macam alasan yang dikemukakan untuk membuktikan, bahwa gerak adalah suatu khayalan. Diantara bukti-bukti ialah :
A. Bahwa Akhilles, pelari termasyhur Yunani, tidak akan pernah dapat mengejar seekor kura-kura yang bejalan di depannya dalam jarak tertentu. Sebab setiap kali Akhilles sampai di tempat kura-kura mulai berjalan, kura-kura itu sudah meninggalkan tempat startnya. Demikian itu terjadi terus menerus, akhirnya Akhilles tidak pernah dapat mengejar kura-kura itu. Bukti yang lain ialah, bahwa sebuah anak panah yang dilepaskan dari busurnya sebenarnya tidak bergerak, melainkan setiap saaat berhenti. Hanya kelihatannya saja bergerak.
B. Untuk membuktikan bahwa tiada kejamakan, Zeno mengemukakan, bahwa seandainya ada kejamakan, sepotong garis dapat dibagi-bagi, yang tiap bagiannya paling sedikit terdiri dari dua titik, yaitu titik pangkal dan titik ujungnya. Bagian ini, karena memiliki jarak antara titik pangkal dan titik ujung, tentu dapat dibagi-bagi lagi, yang bagiannya terdiri dari dua titik, yaitu titik pangkal dan titik ujung. Demikianlah pembagiannya itu dapat terus menerus dilakukan, sebab setiap bagian senantiasa terdiri dari paling sedikit dua titik yang terpisah oleh suatu jarak. Pembagian yang demikian itu dalam kenyataannya tidak mungkin. Oleh karenanya harus disimpulkan, bahwa kejamakan tidak ada.
C. Untuk membuktikan bahwa tiada ruang kosong, Zeno mengemukakan, bahwa seandainya ada ruang kosong, ruang kosong itu pasti mengambil tempatdalam ruang yang lain, dan ruang yang lainnya itu mengambil tempatnya lagi dalm ruang yang lain. Demikian seterusnya, tiada henti-hentinya. Oleh karena hal yang demikian itu tidak mungkin, maka harus disimpulkan, bahwa ruang kosong tidak ada.

Pada waktu sesudah para filsuf Elea ini filsafat tetap ditempatkan pada suatu pilihan yang sulit, seperti yang dihadapi Parmenides, yaitu : apakah kenyataan itu berada dalam “ada” yang tak berubah, atau berada dalam gejala-gejala yang terus menerus berubah itu. Semua ahli piker yang ditempatkan diantara Parmenides dan Sokrates harus dilihat dalam terang pemilihan yang sulit ini. Para ahli pikir itu adalah Empedokles, Anaxagoras, dan Demokritos.

Ketiga filsuf yang akan dibicarakan sekarang ini termasuk filsuf kejamakan.
Sejak Thales hingga Parmenides yang ditekankan adalah monisme, yaitu, bahwa kenyataan seluruhnya bersifat satu, karena hanya terdiri dari satu unsure saja. Parmenides umpamanya menguraikan hal itu secara berlebih-lebihan. Segala kejamakan dan per ubahan yang disaksikan oleh indera ditolak mentah-mentah. Alasan yang dikemukakan, sekalipun mengesan, namun kesimpulannya tidak diterima.
Para filsuf yang kemudian daripadanya, kembali kepada kejamakan, artinya : mereka berpendapat bahwa kenyataan seluruhnya terdiri dari banyak asas atau banyak unsur. Sebagian besar ajaran Parmenides diterima oleh para filsuf ini; kesaksian indera diterima juga, tidak ditolak seperti yang dilakukan Parmenides. Hal ini disebabkan karena: 1 ciri-ciri yang dikenakan Parmenides pada “yang ada” yaitu: tidak dilahirkan, tidak dapat dimusnahkan dan tidak berunah, dikenakan kepada anasir-anasr ( rizomata); anasir-anasir inilah yang tidak dilahirkan, tidak termusnahkan, dan tidak berubah; 2. Perubahan-perubahan yang tampak diterangkan demikian, bahwa anasir-anasir yang tetap sama itu digabungkan dan diceraikan dengan cara yang bermacam-macam.

3. EMPEDOKLES (492-432 SM)
Dilahirkan di Akragas, Sisilia. Hasil karyanya dituangkan dalam bentuk syair, yaitu : tentang Alam dan tentang penyucian, atau suatu pemikiran filsafati tentang alam dan suatu buah pikiran yang bersifat mistis-keagamaan. Di antara kedua tulisan ini tiada hubungannya.
Ia setuju dengan pendapat Parmenides, bahwa di dalam alam semesta tiada sesuatu pun yang dilahirkan sebagai hal yang baru dan dapat dibinasakan sehingga tiada lagi. Demikian juga ia setuju dengan Parmenides, bahwa tiada ruang kosong. Akan tetapi ia menentang pendapat Parmenides, bahwa kesaksian indera adalah palsu. Memang, pengamatan yang dengan indera menunjukan hal yang jamak, yang berubah, akan tetapi bentuk kenyataan yang bermacam-macam itu hanya disebabkan karena penggabungan dan pemisahan keempat anasir (rizomata) yang menyusun segala kenyataan. Keempat anasir itu ialah : air, udara, api, dan tanah.keempat anasir ini mempunyai kualitas yang sama, yaitu tidak berubah (umpamanya : anasir tanah tidak mungkin berubah menjadi anasir air). Segala yang ada terdiri dari keempat anasir itu. Perbedaan-perbedaan yang ada diantara benda-benda disebabkan Karena campuran atau penggabungan keempat anasir tadi berbeda-beda. Misalnya : tulang terdiri dari 2 bagian anasir tanah, 2 bagian anasir air dan 4 bagian anasir api. Demikian seterusnya. Proses penggabungan dan pemisahan anasir-anasir itu diatur oleh dua kekuatan yang saling berlawanan, yaitu cinta (filotes) dan benci (neikos). Cinta mempunyai sifat menggabungkan, sedang benci menceraikan. Oleh Empedokles keduanya dipandang sebagai cairan halus yang meresapi semua benda. Dengan demikian segala sesuatu dipandang sebagai bersifat bendawi.
Semula keempat anasir itu digabungkan dalam suatu harmoni atau keselarasan cinta, akan tetapi kemudian benci mengusahakn supaya anasir-anasir itu terus-menerus diceraikan, sehingga makin lama segala sesuatu makinjauh dari keselarasan yang semula. Oleh Karen aproses penggabungan dan penceraian inilah maka segala kejadian dapat dikelompokan dalam 4 zaman, yang berlangsung terus menerus, silih berganti, yang satu sesudah yang lain, dan kembali lagi pada yang pertama, tiada henti-hentinya.
Pada zaman yang pertama cinta dominan. Alam semesta bagaikan bola, yang semua anasirnya tercampur secara sempurna dan benci tersisih ke ujung. Akan tetapi pelan-pelan benci memasuki alam semesta. Pada zaman yang kedua anasi-anasir yang tercampur sempurna tadi mulai diceraikan, sehingga ada sebagian yang masih kuat dikuasai cinta, tetapi ada juga sebagian yang mulai dikuasai benci. Sekalipun benda-benda masih mempunyai kemantapan, namun sudah dapat binasa. Makhluk-makhluk yang hidup dapat mati. Menurut Empedokles, manusia pada zaman sekarang ini hidup dalam zaman kedua ini. Pada zaman yang ketiga penceraian menjadi sempurna, sehingga benci berdominan, berkuasa. Keempat anasir-anasir itu tercerai-berai menjadi empat lapisan yang konsentris atau berpusat satu, yaitu anasir bumi dipusat, sedang anasir api dipermukaan. Cinta mendapat giliran tersingkir ke ujung. Pada zaman yang keempat cinta mulai meresap ke dalam kosmos. Zaman ini sejajar dengan zaman yang kedua, yang diakhiri dengan dominasi cinta. Tetapi proses ini belum selesai. Kembalilah zaman yang pertama dimulai, demikian seterusnya.
Didalam proses penggabungan dan penceraian ini terjadilah makhluk-makhluk yang hidup. Secara singkat hal itu diuraikan sbb :
Sebelum ada matahari tanah telah mengandung didalamnya anasir panas, yang mengakibatkan tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, yang semula masih belum berbentuk, semacam embryo di dalam kandungan ibunya. Dari tmbuhan-tumbuhan yang belum berbentuk itu kemudian berkembanglah pohon-pohon yang berdaun dan berbuah. Setelah tumbuh-tumbuhan terjadilah binatang-binatang, yang semula hanya berwujud anggota-anggota tubuh yang terlepas yang satu daripada yang lain, tetapi yang kemudian berkembang menjadi binatang-binatang. Mengenai manusia dikatakan, bahwa manusia semula mempunyai bentuk yang luar biasa besarnya, tetapi yang kemudian berkembang menjadi manusia seperti yang yang sekarang ini. Hal itu semuanya disebabkan oleh hukum yang demikian, bahwa yang sama menarik yang sama, seperti umpamanya : anasir tanah menarik tanah yang diluar, anasir air menarik air yang di luar.
Teori pengenalan Empedokles juga didasarkan atas hokum penggabungan tersebut : yang sama mengenal yang sama. Karena anasir tanah yang ada pada manusia itulah maka manusia mengenal tanah, dank arena anasir airlah ia mengenal air. Demikian seterusnya.
Dalam bukunya yang kedua, tentang penyucian, Empedokles mengajarkan tentang perpindahan jiwa, dan caranya membebaskan diri dari perpindahan jiwa itu, yaitu dengan mentahirkn diri.

4. ANAXAGORAS (499-420 SM)
Filsuf kejamakan kedua adalah Anaxagoras yang sebagian besar hidupnya dimanfaatkan di Athena.
Pendapat orang mengenai dia bermacam-macam, akan tetapi bagaimanapun satu hal yang jelas, yaitu bahwa ia menolak ajaran Parmenides yang monistis itu. Menurut dia, kenyataan bukanlah satu, sebab kenyataan terdiri dari banyak anasir, yang masing-masing memiliki kualitas yang sama dengan kualitas “yang ada”, yaitu : tidak dijadikan, tidak berubah dan berada di ruang yang kosong. Didalam hal ini ada kesamaannya dengan Empedokles. Hanya saja menurut Anaxagoras, anasir tidak hanya empat, seperti yang diajarkan Empedokles, melainkan tidak terhitung bilangannya. Anasir-anasir itu tidak disebut Arizomata (akar), tetapi spermata (benih-benih). Benih-benih yang banyak tak terbilang itu keadaanya bermacam-macam juga. Segala sesuatu tersusun dari benih-benih atau anasir-anasir itu.
Seperti hal nya dengan Empedokles, ia juga mengajarkan teori tentang penggabungan dan penceraian. Oleh karena segala sesuatu terjadi dari benih-benih yang banyak itu, maka menurut Anaxagoras, segalanya terdapat dalam segalanya, artinya : semua benih mengandung semua kualitas. Sekalipun benda dapat dibagi-bagi hingga tak terhingga, namun semua kualitas selalu ada dalam benda itu. (salju umpanya tidak hanya memiliki warna putih saja, tetapi juga warna hitam, merah, hijau, dan sebagainya; tidak hanya mengandung darah, tetapi juga daging, kuku, dan sebagainya). Oleh karena itu jika orang makan apa saja, ia telah mendapatkan semua itu. Demikianlah kenyataan seluruhnya adalah suatu campuran semua benih, dan tiap benda mengandung didalamnya semua benih. Hanya saja, yang dilihat adalah benih yang dominan, umpamanya : salju tampak putih.
Pokok penting dalam ajaran Anaxagoras adalh teorinya tentang nous (roh, rasio). Roh ini terpisah dari segala sesuatu, tidak tercampur dengan benih-benih. Roh adalah yang terhalus dan tersempurna dari segala sesuatu. Sekalipun demikian kekuatannya melebihi segala sesuatu. Oleh karena itu roh menguasai segala sesuatu yang berjiwa. Semula benih-benih mewujudkan suatu khaos, suatu kekacauan, akan tetapi kemudian roh menyebabkan adanya suatu gerak-dunia dalam kekacauan yang asali itu, sehingga terpisahlah benih-benih tadi dan timbul suatu tertib.
Anaxagoras membedakan antara roh (nous) dengan benda. Akan tetapi uraiannya tentang roh itu menampakan, bahwa roh belum juga bebas dari segala kebendaan.

5. LEUKIPPOS DAN DEMOKRITOS
Dua filsuf terakhir yang dipandang sebagai filsuf pra Sokrates. Keduanya dipandang sebagai flsuf yang mengajarkan tentang atom.
Mengenai leukippos tidak banyak yang kita ketahui. Dialah orang yang pertama mengajarkan tentang atom.
Filsuf atomik yang kita ketahui lebih banyak adalah Demokritos ( 460-370 SM).
Seperti halnya dengan filsuf kejamakan lainnya demokritos mengajarkan, bahwa kenyataan bukan hanya satu saja, tetapi terdiri dari banyak unsur. Teori tentang bagian-bagian terkecil segala sesuatu, seperti yang diajarkan oleh Anaxagoras, diajarkan juga oleh Demokritos. Hanya saja bagian-bagian terkecil tadi olehnya tidak disebut benih-benih ( spermata ), melainkan atom (atomos), yang artinya : tak terbagi. Atom yang satu tidak dibedakan dengan atom yang lain dalam kualitas. Semua atom adalah sama. Yang berbeda adalh bentuknya (bnd. Bentuk huruf A dan N), juga urutan penempatannya (bnd. Urutan huruf AN dan NA), serta posisinya (bnd. Posisi huruf N dan Z). jumlah atom-atom tidaklah terbilang. Setiap atom tidak dijadikan, tidak termusnahkan dan tidak berubah.
Semua atom tidaklah tampak dan senantiasa bergerak. Gerak ini disebabkan karena, menurut Demoritos, ada ruang yang berisi dan ruang kosong. Dalam soal ruang kosong berbedalah pandangannya dengan pandangan para filsuf Elea (Parmenides dan Zeno tidak mengakui adanya ruang kosong). Menurut Demokritos, ada ruang kosong, sebab yang berada bukan hanya “yang ada” , melainkan juga “yang tidak ada” . maka ruang kosong adalah nyata. Baik atom maupun ruang kosong, keduanya adalah nyata. Karena atom, yang adalah “yang penuh” dan ruang kosong, yang adalah “ yang tidak penuh” bersama-sama berada, maka “yang penuh” mengisi “yang kosong”. Demikianlah terjadi gerak. Gerak ini terjadi secara spontan, artinya : dengan sendirinya, tanpa pengaruh khusus, dan menuju ke semua jurusan (bnd.debu di dalam berkas sinar).
Kemungkinan-kemungkina yang ditimbulkan oleh gerak yang spontan, yang mengarah ke semua jurusan itu ialah, bahwa atom-atom itu saling kait mengait. Kejadian ini menyebabkan adanya gerak puting beliung. Yang makin lama makin menarik banyak atom, yang besar di pusat, yang lebih halus dilontarkan ke tepi. Demikianlah kosmos dibentuk.
Menurut Demokritos jiwa manusia terdiri dari atom juga, yaitu atom yang paling halus dan paling bundar, yang tidak dapat mengait atom lain.
Pengamatan terjadi karena benda-benda menyinarkan gambar kecilnya (idola) yang terdiri dari atom-atom juga, yang bentuknya sama dengan bendanya. Gambar-gambar itu masuk ke dalam indera manusia, disalurkan ke jiwa dan bersentuhan dengannya. Demikianlah pengamatan terjadi. Akan tetapi pengamatan inderawi ini menyesatkan. Hanya akalah yang member pengetahuan yang benar.
Dengan panjang Demokritos membicarakan etika. Untuk pertama kali manusia diperhatikan oleh filsuf pra Sokrates. Etika Demokritos belum di susun secara sistematis. Sebagai cita-cita yang tertinggi disebutnya euthumia, yaitu keadaan batin yang sempurna. Agar supaya euthumia ini dapat tercapai orang perlu secara seimbang menjangkau semua faktor dalam hidup, kesenangan dan kesusahan, kenikmatan dan pantangan. Dengan demikian asas tindakan manusia adalah keseimbangan. Orang bijak adalah orng-orng yang mengejar hal-hal yang menguntungkan jiwa dan yang memberikan ketenangan jiwa. Untuk itu perlu keinginan-keinginan lahiriah diredakan dan cara hidup sederhana dipraktekan.
Dapat dikatakan, bahwa para filsuf yang lebih kemudian daripada Parmenides dalam pokok-pokok yang penting lebih maju sikapnya terhadap pemilihan yang sulit yang mengenai soal “apakah kenyataan itu berada dalam “ada” yang tak berubah, atau berada dalam gejala-gejala yang terus berubah itu”. Sekalipun demikian inti sari persoalan itu masih dihindari oleh mereka. Inti sari itu mengenai soal “bagaimana ‘yang satu’ dari akal itu dapat berjalan bersama-sama dengan ‘yang banyak’ dari pengamatan?”.

6. EPIKUROS (341 – 271 SM)
Dilahirkan di Samos, akan tetapi mendapatkan pendidikan di Athena. Ada beberapa filsuf yang mempengaruhi pikirannya, akan tetapi Demokritoslah yang paling besar mempengaruhinya.
Tujuan filsafatnya ialah menjamin kebahagiaan manusia. Oleh karena itu inti pikirannya berkisar kepada etika. Ajarannya yang mengenai fisika dan teori pengenalannya hanya berfungsi sebagai persiapan etikanya.
Menurut Epikuros, tiada sesuatupun yang ada, yang ditimbulkan oleh sesuatu yang tidak ada, dan tidak ada sesuatu yang ada, yang kemudian musnah menjadi tidak ada. Jagat raya adalah kekal dan tidak terbatas, dan dibentuk oleh benda yang kita amati dan oleh ruang kosong yang ditempati benda itu. Segala benda di susun dari atom-atom, yang telah ada sejak kekal bersama-sama dengan adanya ruang kosong. Segala atom tidak dapat di bagi-bagi dan tidak dapat binasa. Semuanya memiliki bentuk, berat dan besarnya, sekalipun bentuknya berbeda-beda. Itulah sebabnya maka ada benda yang berbeda-beda juga. Atom-atom itu begitu kecil sehingga tidak dapat diamati.
Semua atom bergerak. Semula, karena beratnya, semua atom bergerak dri atas ke bawah, sehingga seolah-olah ada hujan atom. Tetapi kemudian ada beberapa atom yang menyimpang, yang mengakibatkan pertabrakan dan penimbunan atom-atom. Kejadian ini menjadikan atom-atom akhirnyaberputar, yang lebih berat di tengah, sedang yang lebih ringan di tepi. Demikianlah jagat raya ini terjadi karena gerak dan pertabrakan atom-atom. Para dewa tidak ikiut campur dalam penjadian jagat raya dan dalam perkembangannya lebih lanjut.
Jiwa tidak lain adalah atom, yaitu atom yang bulat dan licin. Oleh karena itu pada hakekatnya jiwa adalah tubuh halus yang berada di dalam tubuh. Tanpa tubuh kasar jiwa tidak dapat berada. Setelah orang mati jiwanya dilarutkan kedalam atom-atom lagi, sehingga jiwa tiada lagi.
Pengenalan didapatkan melalui pengamatan. Apa yang benar ialah apa yang diamati pada suatu saat dengan indera. Aadapun proses pengamatan terjadi demikian : benda-benda diluar manusia melepaskan gambaran-gambaran yang halus, yang kemudian memasuki indera, dengan akibat bahwa manusia memperoleh gagasan tentang benda itu.
Di dalam etikanya Epikuros bermaksud memberikan ketenangan batin (ataraxia) kepada manusia. Hal in disebabkan karena ketenangan batin itu diancam oleh ketakutan, yaitu ketakutan terhadap murka para dewa, terhadap maut dan terhadap nasib. Padahal ketakutan-ketakutan itu sebenarnya tidak ada dasarnya, tidak masuk akal. Bukankah para dewa tidak ikut campur dalam urusan dunia ini? Di dalam jagat raya segala sesuatu terjadi karena gerak atom-atom. Para dewa tidak menjadikan jagat raya dan tidak mengurusinya. Mereka menikmati kebahagiaan yang kekal, yang tidak dapat diganggu oleh siapa pun. Manusia tidak mungkin mengganggu mereka. Oleh karena itu mereka tidak akan mengganggu manusia. Itulah sebabnya orang tidak perlu takut terhadap dewa. Juga orang tidak perlu takut terhadap maut. Bukanlah setelah orang mati jiwanya dilarutkan ke dalam atom-atom, kembali kepada asalnya? Oleh karena itu tidak ada hukuman di akhirat. Setelah orang mati ia tidak akan menikmati apa-apa dan tidak akan menderita apa-apa. Maut bukanlah hal yang jahat dan bukanlah hal yang baik. Selama kita masih hidup kita tidak akan mati, sedang jikalu mati kita tidak ada lagi. Apa perlunya takut terhadap maut? Juga terhadap nasib orang tak perlu takut. Sebab tidak ada nasib. Kita sendirilah yang menguasai hidup kita dan segala perbuatan kita. Atom dapat berubah arah geraknya. Kemungkinan perubahan memang ada. Kita dapat merubah pengungkapan kehendak kita. Jadi kita sendiri yang menentukan keadaan kita. Tidak ada nasib.
Tujuan hidup adalah hedone ( kenikmatan, kepuasan ), yang tercapai jikalau batin orang tenang dan tubuhnya sehat. Ketenangan batin timbul jikalau segala kainginan dipuaskan, sehingga tiada sesuatu pun yang diinginkan lagi. Disini orang hanya menikmati saja. Jadi makin sedikit keinginan, makin besar kebahagiaan. Oleh karena itu orang wajib membatasi apa yang diinginkan. Ini tidak berarti bahwa manusia harus mencita-citakan kemiskinan. Kebahagiaan tidak terdiri dari menikamati hal yang melimpah-limpah, sebab juga hal yang sedikit dapat dinilmati. Yang baik adalah, jikalau dalam keadaan yang kongkrit perasaan menentukan perbuata mana yang dapat member kenikmatan yang mendalam dan yang lama. Orang bijak tahu seni untuk menikmati selama dan sedalam mungkin.
Persaudaraan dipandang penting sebagai sarana untuk menambah kenikamatan.
Tidak dapat disangkal bahwa ada kesamaan antara ajaran Epikuros dan ajaran Demokritos dan ajaran Aristippos.
Baik Demokritos maupun Epikuros mengajarkan tentang atom-atom. Perbedaannya terletak disini, bahwa menurut Demokritos atom-atom hanya memiliki bentuk dan besarnya, tetapi menurut Epikuros atom-atom itu juga memiliki berat. Hal ini menyebabkan bahwa ada perbedaan ajaran tentang gerak atom-atom tadi. Menurut Demokritos atom-atom bergerak kesegala jurusan ( bnd. Debu di dalam barkas sinar ), akan tetapi menurut Epikuros atom-atom tadi dari atas ke bawah dengan kemungkina adanya penyimpangan arah. Gerak atom yang menurut Epikuros ini memberi kemungkinan adanya kebebasan, yaitu kebebasan kehendak.
Di lain pihak tampak juga adanya kesamaan antara ajaran Epikuros dan Aristippus, yaitu karena keduanya mengajarkan teori tentang kenikmatan (hedone). Perbedaannya terletak disini, bahwa menurut Aristippus kenikmatan badaniah lebih berbobot daripada kenikmatan rohani, akan tetapi menurut Epikuros, ketenangan batin yang bersifat rohani lebih berbobot disbanding dengan kesehatan badaniah.

KESIMPULAN

1. Parmenides adalah filsuf yunani kuno yang pertama-tama berfilsafat tentang “yang ada”. Dia memperkenakan Metafisika. Inti ajarannya adalah : Being, the one, is and that becoming, change, is illusion, pluralitas adalah ilusi.
2. Zeno dari Elea adalah murid Parmenides. Dia memberikan sejumlah argument brilian untuk membuktikan bahwa tidak mungkin ada gerak,misalnya teka-teki Achilles dan kura-kura
3. Empedokles seperti Parmenides, mengajarkan bahwa materi tidak punya awal dan akhir. Materi tidak dapat binasa. Menurut dia, unsure dari segala-galanya adalah tanah, udara, air, dan api. Keempat benda itu tidak dapat saling dippertukarkan. Ia juga mengajarkan tentang perpindahan jiwa. Dia sendiri mengatakan bahwa di waktu lampau, dia sendiri adalah anak laki-laki, anak perempuan, tumbuhan, burung dan ikan.
4. Anaxagoras adalah filsuf yunani kuno juga, sumbangan paling penting Anaxagoras bagi filsafat adalah teorinya tentang rasio (nous). Jika Empedokles mengajarkan bahwa gerakan di jagat raya disebabkan oleh kekuatan fisik cinta dan kebencian, maka Anaxagoras mengatakan bahwa gerakan disebabkan oleh rasio. “Nous memiliki kekuasaan atas segala sesuatu yang memiliki hidup, baik besar maupun kecil”.
5. Dua filsuf terakhir yang dipandang sebagai filsuf pra Sokrates adalah Leukippos dan Demokritos. Keduanya dipandang sebagai flsuf yang mengajarkan tentang atom. Mengenai leukippos tidak banyak yang kita ketahui. Dialah orang yang pertama mengajarkan tentang atom. Filsuf atomik yang kita ketahui lebih banyak adalah Demokritos.
6. Epikuros filsuf yunani yang mendapatkan pendidikan di Athena, yang terkenal dengan etikanya. Epikuros mengajarkan bahwa manusia harus mencari kesenangan sedapat mungkin. Kesenangan itu baik, asal selalu sekadarnya. Karena “kita harus memiliki kesenangan tetapi kesenangan tidak boleh memiliki kita”. Manusia harus bijaksana. Dengan cara ini akan memperoleh kebebasan batin

Hakekat Kepemimpinan

SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

Telah terbukti bahwa sistem pendidikan yang materialistik telah gagal melahirkan manusia yang shaleh yang sekaligus menguasai iptek. Misalnya di Indonesia, secara formal kelembagaan, sekulerisasi pendidikan ini telah dimulai sejak adanya dua kurikulum pendidikan keluaran dua departamen yang berbeda, yakni Depag dan Depkidbud. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) adalah suatu hal yang berada di wilayah bebas nilai, sehingga sama sekali tidak tersentuh oleh standar nilai agama.

Pendidikan materialistik memberikan kepada siswa suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material serta memungkiri hal-hal yang bersifat non-materi. Bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam oleh orang tua siswa. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan atau apapun yang setara dengan nilai materi.

Sistem Pendidikan Islam

Dalam konteks individu, pendidikan termasuk salah satu kebutuhan asasi manusia. Sebab, ia menjadi jalan yang lazim untuk memperoleh pengetahuan atau ilmu. Sedangkan ilmu akan menjadi unsur utama penopang kehidupannya. Oleh karena itu, Islam tidak saja mewajibkan manusia untuk menuntut ilmu, bahkan memberi dorongan serta arahan agar dengan ilmu itu manusia dapat menemukan kebenaran hakiki dan mendayagunakan ilmunya di atas jalan kebenaran itu. Rasulullah Saw bersabda, “Tuntutlah oleh kalian akan ilmu pengetahuan, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah azza wa jalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah shodaqoh. Sesungguhnya ilmu itu akan menempatkan pemiliknya pada kedudukan tinggi lagi mulia. Ilmu adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat.” [HR. ar-Rabî’].

Makna hadits tersebut sejalan dengan firman Allah SWT: “Allah niscaya mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan mereka yang berilmu pengetahuan bertingkat derajat. Dan Allah Maha mengetahui terhadap apa yang kamu lakukan.” (Qs. al-Mujadalah: 11).
Asas Pendidikan Islam

Asas pendidikan adalah aqidah Islam. Aqidah menjadi dasar kurikulum (mata ajaran dan metode pengajaran) yang diberlakukan oleh negara. Aqidah Islam berkonsekuensi ketaatan pada syari’at Islam. Ini berarti tujuan, pelaksanaan, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum harus terkait dengan ketaatan pada syari’at Islam. Pendidikan dianggap tidak berhasil apabila tidak menghasilkan keterikatan pada syari’at Islam pada peserta didik, walaupun mungkin membuat peserta didik menguasai ilmu pengetahuan.

Aqidah Islam menjadi asas dari ilmu pengetahuan. Ini bukan berarti semua ilmu pengetahuan yang dikembangkan harus bersumber pada akidah Islam, karena memang tidak semua ilmu pengetahuan lahir dari akidah Islam. Yang dimaksud adalah, aqidah Islam harus dijadikan standar penilaian. Ilmu pengetahuan yang bertentangan dengan aqidah Islam tidak boleh dikembangkan dan diajarkan, kecuali untuk dijelaskan kesalahannya.

Tujuan Pendidikan Islam

Pendidikan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis yang bertujuan untuk membentuk manusia yang berkarakter, yakni: Pertama, berkepribadian Islam. Ini sebetulnya merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim. Intinya, seorang Muslim harus memiliki dua aspek yang fundamental, yaitu pola pikir (‘aqliyyah) dan pola jiwa (nafsiyyah) yang berpijak pada aqidah Islam.
Untuk mengembangkan kepribadian Islam, paling tidak, ada tiga langkah yang harus ditempuh, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Saw, yaitu:
  1. Menanamkan aqidah Islam kepada seseorang dengan cara yang sesuai dengan kategori aqidah tersebut, yaitu sebagai ‘aqîdah ‘aqliyyah; aqidah yang muncul dari proses pemikiran yang mendalam.
  2. Menanamkan sikap konsisten dan istiqâmah pada orang yang sudah memiliki aqidah Islam agar cara berpikir dan berprilakunya tetap berada di atas pondasi aqidah yang diyakininya.
  3. Mengembangkan kepribadian Islam yang sudah terbentuk pada seseorang dengan senantiasa mengajaknya untuk bersungguh-sungguh mengisi pemikirannya dengan tsaqâfah islâmiyyah dan mengamalkan ketaatan kepada Allah SWT.
Kedua, menguasai tsaqâfah Islam. Islam telah mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu. Berdasarkan takaran kewajibannya, menurut al-Ghazali, ilmu dibagi dalam dua kategori, yaitu:
  1. Ilmu yang termasuk fardhu ‘ain (kewajiban individual), artinya wajib dipelajari setiap Muslim, yaitu tsaqâfah Islam yang terdiri dari konsepsi, ide, dan hukum-hukum Islam; bahasa Arab; sirah Nabi Saw, ulumul Qur’an, tahfizh al-Qur’an, ulumul hadis, ushul fiqh, dll.
  2. Ilmu yang dikategorikan fadhu kifayah (kewajiban kolektif); biasanya ilmu-ilmu yang mencakup sains dan teknologi serta ilmu terapan-keterampilan, seperti biologi, fisika, kedokteran, pertanian, teknik, dll.
Ketiga, menguasai ilmu kehidupan (IPTEK). Menguasai IPTEK diperlukan agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi dengan baik. Islam menetapkan penguasaan sains sebagai fardlu kifayah, yaitu jika ilmu-ilmu tersebut sangat diperlukan umat, seperti kedokteran, kimi, fisika, industri penerbangan, biologi, teknik, dll.
Keempat, memiliki keterampilan yang memadai. Penguasaan ilmu-ilmu teknik dan praktis serta latihan-latihan keterampilan dan keahlian merupakan salah satu tujuan pendidikan Islam, yang harus dimiliki umat Islam dalam rangka melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah SWT.
Sebagaimana penguasaan IPTEK, Islam juga menjadikan penguasaan keterampilan sebagai fardhu kifayah, yaitu jika keterampilan tersebut sangat dibutuhkan umat, seperti rekayasa industri, penerbangan, pertukangan, dan lainnya.
Sistem Pendidikan Islam Yang Terpadu
Agar keluaran pendidikan menghasilkan SDM yang sesuai harapan, harus dibuat sebuah sistem pendidikan yang terpadu. Artinya, pendidikan tidak hanya terkonsentrasi pada satu aspek saja. Sistem pendidikan yang ada harus memadukan seluruh unsur pembentuk sistem pendidikan yang unggul.
Dalam hal ini, minimal ada 3 hal yang harus menjadi perhatian. Pertama, sinergi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga. Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur di atas. Sebab, ketiga unsur di atas menggambarkan kondisi faktual obyektif pendidikan. Saat ini ketiga unsur tersebut belum berjalan secara sinergis, di samping masing-masing unsur tersebut juga belum berfungsi secara benar.
Buruknya pendidikan anak di rumah memberi beban berat kepada sekolah/kampus dan menambah keruwetan persoalan di tengah-tengah masyarakat seperti terjadinya tawuran pelajar, seks bebas, narkoba, dan sebagainya. Pada saat yang sama, situasi masyarakat yang buruk jelas membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga dan sekolah/kampus menjadi kurang optimum. Apalagi jika pendidikan yang diterima di sekolah juga kurang bagus, maka lengkaplah kehancuran dari tiga pilar pendidikan tersebut.
Kedua, kurikulum yang terstruktur dan terprogram mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi. Kurikulum sebagaimana tersebut di atas dapat menjadi jaminan bagi ketersambungan pendidikan setiap anak didik pada setiap jenjangnya.
Selain muatan penunjang proses pembentukan kepribadian Islam yang secara terus-menerus diberikan mulai dari tingkat TK hingga PT, muatan tsaqâfah Islam dan Ilmu Kehidupan (IPTEK, keahlian, dan keterampilan) diberikan secara bertingkat sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan anak didik berdasarkan jenjang pendidikannya masing-masing.
Pada tingkat dasar atau menjelang usia balig (TK dan SD), penyusunan struktur kurikulum sedapat mungkin bersifat mendasar, umum, terpadu, dan merata bagi semua anak didik yang mengikutinya.
Khalifah Umar bin al-Khaththab, dalam wasiat yang dikirimkan kepada gubernur-gubernurnya, menuliskan, “Sesudah itu, ajarkanlah kepada anak-anakmu berenang dan menunggang kuda, dan ceritakan kepada mereka adab sopan-santun dan syair-syair yang baik.”
Khalifah Hisyam bin Abdul Malik mewasiatkan kepada Sulaiman al-Kalb, guru anaknya, “Sesungguhnya anakku ini adalah cahaya mataku. Saya mempercayaimu untuk mengajarnya. Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dan tunaikanlah amanah. Pertama, saya mewasiatkan kepadamu agar engkau mengajarkan kepadanya al-Qur’an, kemudian hapalkan kepadanya al-Quran…”
Di tingkat Perguruan Tinggi (PT), kebudayaan asing dapat disampaikan secara utuh. Ideologi sosialisme-komunisme atau kapitalisme-sekularisme, misalnya, dapat diperkenalkan kepada kaum Muslim setelah mereka memahami Islam secara utuh. Pelajaran ideologi selain Islam dan konsepsi-konsepsi lainnya disampaikan bukan bertujuan untuk dilaksanakan, melainkan untuk dijelaskan dan dipahami cacat-celanya serta ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia.
Ketiga, berorientasi pada pembentukan tsaqâfah Islam, kepribadian Islam, dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan. Ketiga hal di atas merupakan target yang harus dicapai. Dalam implementasinya, ketiga hal di atas menjadi orientasi dan panduan bagi pelaksanaan pendidikan.
Pendidikan Bagi Warga Negara Ahlu Dzimmi (Non-Muslim)
Warga negara non-Muslim mendapatkan pendidikan yang sama sebagaimana warga negara yang Muslim. Mereka mempelajari ajaran agama mereka di keluarga-keluarga mereka dan komunitas mereka, misalnya di sekolah-sekolah Minggu di gereja-gereja, kelas-kelas pelajaran tentang Yahudi, pengajaran di kuil-kuil, dan lain-lain. Mereka mengadakan sendiri pengajaran agama bagi anak-anak mereka, negara tidak campur tangan dalam hal itu. Mereka juga bisa saja diizinkan membuka sekolah khusus untuk anak-anak mereka, selama mereka tetap menjalankan kurikulum yang ditentukan negara, dan tetap dalam kontrol negara. Anak-anak mereka akan mengenal bagaimana ajaran aqidah Islam dan bagaimana ibadah mahdhah-nya seorang Muslim walau mereka tidak meyakini dan melaksanakannya. Mereka mengenal hukum-hukum muamalat Islam karena mereka harus melaksanakannya dalam kehidupan umum di masyarakat. (Tim Redaksi dari berbagai sumber).

Tasawuf (islam)

TASWUF

Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa Arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi[rujukan?]. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia.

Daftar isi

Etimologi

Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata "Sufi". Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.
Yang lain menyarankan bahwa etimologi dari Sufi berasal dari "Ashab al-Suffa" ("Sahabat Beranda") atau "Ahl al-Suffa" ("Orang orang beranda"), yang mana dalah sekelompok muslim pada waktu Nabi Muhammad yang menghabiskan waktu mereka di beranda masjid Nabi, mendedikasikan waktunya untuk berdoa.

Sejarah paham

Banyak pendapat yang pro dan kontra mengenai asal-usul ajaran tasawuf, apakah ia berasal dari luar atau dari dalam agama Islam sendiri. Berbagai sumber mengatakan bahwa ilmu tasauf sangat lah membingungkan.
Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuf merupakan paham yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah[1]. Dan orang-orang Islam baru di daerah Irak dan Iran (sekitar abad 8 Masehi) yang sebelumnya merupakan orang-orang yang memeluk agama non Islam atau menganut paham-paham tertentu. Meski sudah masuk Islam, hidupnya tetap memelihara kesahajaan dan menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan keduniaan. Hal ini didorong oleh kesungguhannya untuk mengamalkan ajarannya, yaitu dalam hidupannya sangat berendah-rendah diri dan berhina-hina diri terhadap Tuhan. Mereka selalu mengenakan pakaian yang pada waktu itu termasuk pakaian yang sangat sederhana, yaitu pakaian dari kulit domba yang masih berbulu, sampai akhirnya dikenal sebagai semacam tanda bagi penganut-penganut paham tersebut. Itulah sebabnya maka pahamnya kemudian disebut paham sufi, sufisme atau paham tasawuf. Sementara itu, orang yang penganut paham tersebut disebut orang sufi.
Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa asal-usul ajaran tasawuf berasal dari zaman Nabi Muhammad SAW. Berasal dari kata "beranda" (suffa), dan pelakunya disebut dengan ahl al-suffa, seperti telah disebutkan diatas. Mereka dianggap sebagai penanam benih paham tasawuf yang berasal dari pengetahuan Nabi Muhammad [2].
Pendapat lain menyebutkan tasawuf muncul ketika pertikaian antar umat Islam di zaman Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, khususnya karena faktor politik.Pertikaian antar umat Islam karena karena faktor politik dan perebutan kekuasaan ini terus berlangsung dimasa khalifah-khalifah sesudah Utsman dan Ali. Munculah masyarakat yang bereaksi terhadap hal ini. Mereka menganggap bahwa politik dan kekuasaan merupakan wilayah yang kotor dan busuk. Mereka melakukan gerakan ‘uzlah , yaitu menarik diri dari hingar-bingar masalah duniawi yang seringkali menipu dan menjerumuskan. Lalu munculah gerakan tasawuf yang di pelopori oleh Hasan Al-Bashiri pada abad kedua Hijriyah. Kemudian diikuti oleh figur-figur lain seperti Shafyan al-Tsauri dan Rabi’ah al-‘Adawiyah.[3]
Beberapa definisi sufisme:
  • Yaitu paham mistik dalam agama Islam sebagaimana Taoisme di Tiongkok dan ajaran Yoga di India (Mr. G.B.J Hiltermann & Prof.Dr.P.Van De Woestijne).
  • Yaitu aliran kerohanian mistik (mystiek geestroming) dalam agama Islam (Dr. C.B. Van Haeringen).
Pendapat yang mengatakan bahwa sufisme/tasawuf berasal dari dalam agama Islam:
  • Asal-usul ajaran sufi didasari pada sunnah Nabi Muhammad. Keharusan untuk bersungguh-sungguh terhadap Allah merupakan aturan di antara para muslim awal, yang bagi mereka adalah sebuah keadaan yang tak bernama, kemudian menjadi disiplin tersendiri ketika mayoritas masyarakat mulai menyimpang dan berubah dari keadaan ini. (Nuh Ha Mim Keller, 1995) [4]
  • Seorang penulis dari mazhab Maliki, Abd al-Wahhab al-Sha'rani mendefinisikan Sufisme sebagai berikut: "Jalan para sufi dibangun dari Qur'an dan Sunnah, dan didasarkan pada cara hidup berdasarkan moral para nabi dan yang tersucikan. Tidak bisa disalahkan, kecuali apabila melanggar pernyataan eksplisit dari Qur'an, sunnah, atau ijma." [11. Sha'rani, al-Tabaqat al-Kubra (Kairo, 1374), I, 4.] [5].
  • Sufi tidak lain adalah ajaran untuk mencapai maqam Ihsan (sebagaimana tersebut dalam hadist) atau mencapai status muqarrabun (orang-orang yang didekatkan kepada ALLAH).
  • Tasawuf adalah penafsiran bathin (psikologis) dari ayat-ayat Quran seperti : Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain ALLAH adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui (Quran, 29:41). Dalam Tasawuf, yang dimaksud pelindung dalam ayat ini juga termasuk pelindung secara psikologis, sebagaimana kita ketahui manusia banyak menggantungkan keberhargaan dirinya kepada dunia (seperti harta, jabatan, pasangan, teman, dll). Dalam Tasawuf, keberhargaan diri hanya boleh digantungkan kepada ALLAH. Karena jika memang mereka percaya ALLAH adalah yang paling kuat dan berharga, maka menggantungkan kepada selain ALLAH adalah taghut (sesembahan). Inilah kenapa dalam tareqahnya, seorang Sufi (penempuh Tasawuf) harus bisa menjadikan ALLAH sebagai satu-satunya sumber kekuatan dan penghargaan dirinya. Dalam istilah lain, Tasawuf adalah ajaran untuk mencapai Tauhid secara bathin (psikologis).
  • Sisi psikologis (bathin) yang terdapat dalam ajaran-ajaran Kristen, Budha, dll sebaiknya tidak menafikan keberadaan Tasawuf sebagai sisi psikologis (bathin) dalam ajaran Islam. Hal ini karena Islam adalah ajaran penyempurna sehingga tidak harus sepenuhnya baru dari ajaran-ajaran yang terdahulu. Adanya sisi bathin dalam ajaran-ajaran yang sebelumnya ada malahan memperkuat status Tasawuf karena tentunya harus ada garis merah antara agama-agama yang besar, karena kemungkinan besar ajaran-ajaran tersebut dulunya sempat benar, sehingga masih ada sisa-sisa kebenaran yang mirip dengan Tasawuf sebagai sisi bathin (psikologis) dari ajaran Islam.
Pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari luar agama Islam:
  • Sufisme berasal dari bahasa Arab suf, yaitu pakaian yang terbuat dari wol pada kaum asketen (yaitu orang yang hidupnya menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan). Dunia Kristen, neo platonisme, pengaruh Persi dan India ikut menentukan paham tasawuf sebagai arah asketis-mistis dalam ajaran Islam (Mr. G.B.J Hiltermann & Prof.Dr.P.Van De Woestijne).
  • (Sufisme)yaitu ajaran mistik (mystieke leer) yang dianut sekelompok kepercayaan di Timur terutama Persi dan India yang mengajarkan bahwa semua yang muncul di dunia ini sebagai sesuatu yang khayali (als idealish verschijnt), manusia sebagai pancaran (uitvloeisel) dari Tuhan selalu berusaha untuk kembali bersatu dengan DIA (J. Kramers Jz).
  • Al Quran pada permulaan Islam diajarkan cukup menuntun kehidupan batin umat Muslimin yang saat itu terbatas jumlahnya. Lambat laun dengan bertambah luasnya daerah dan pemeluknya, Islam kemudian menampung perasaan-perasaan dari luar, dari pemeluk-pemeluk yang sebelum masuk Islam sudah menganut agama-agama yang kuat ajaran kebatinannya dan telah mengikuti ajaran mistik, keyakinan mencari-cari hubungan perseorangan dengan ketuhanan dalam berbagai bentuk dan corak yang ditentukan agama masing-masing. Perasaan mistik yang ada pada kaum Muslim abad 2 Hijriyah (yang sebagian diantaranya sebelumnya menganut agama Non Islam, semisal orang India yang sebelumnya beragama Hindu, orang-orang Persi yang sebelumnya beragama Zoroaster atau orang Siria yang sebelumnya beragama Masehi) tidak ketahuan masuk dalam kehidupan kaum Muslim karena pada mereka masih terdapat kehidupan batin yang ingin mencari kedekatan diri pribadi dengan Tuhan. Keyakinan dan gerak-gerik (akibat paham mistik) ini makin hari makin luas mendapat sambutan dari kaum Muslim, meski mendapat tantangan dari ahli-ahli dan guru agamanya. Maka dengan jalan demikian berbagai aliran mistik ini yang pada permulaannya ada yang berasal dari aliran mistik Masehi, Platonisme, Persi dan India perlahan-lahan memengaruhi aliran-aliran di dalam Islam (Prof.Dr.H.Abubakar Aceh).
  • Paham tasawuf terbentuk dari dua unsur, yaitu (1) Perasaan kebatinan yang ada pada sementara orang Islam sejak awal perkembangan Agama Islam,(2) Adat atau kebiasaan orang Islam baru yang bersumber dari agama-agama non Islam dan berbagai paham mistik. Oleh karenanya, paham tasawuf itu bukan ajaran Islam walaupun tidak sedikit mengandung unsur-unsur ajaran Islam. Dengan kata lain, dalam agama Islam tidak ada paham Tasawuf walaupun tidak sedikit jumlah orang Islam yang menganutnya (MH. Amien Jaiz, 1980)[6].
  • Tasawuf dan sufi berasal dari kota Bashrah di negeri Irak. Dan karena suka mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuuf), maka mereka disebut dengan "Sufi". Soal hakikat Tasawuf, hal itu bukanlah ajaran Rasulullah SAW dan bukan pula ilmu warisan dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu. Menurut Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: “Tatkala kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka sangat berbeda dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad SAW, dan juga dalam sejarah para shahabatnya yang mulia, serta makhluk-makhluk pilihan Allah Ta’ala di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha" - At Tashawwuf Al Mansya’ Wal Mashadir, hal. 28.(Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc) [7].

Tokoh tasawuf di Indonesia

Tokoh –tokoh yang memengaruhi tasawuf di Indonesia yaitu: Syeikh ‘Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad r.a (Abah Sepuh) Pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, Hamzah Al-Fasuri, Nurddin Ar-Raniri, Syekh Abdurrauf As-Sinkili, Syekh Yusuf Al-Makasari dan Shohibul Faroji Azmatkhan Ba'alawi Al-Husaini,.[8]
Adapun tokoh-tokoh Tasawuf yang berpengaruh di Cirebon[2] diantaranya ialah Syekh Syarif Hidayatullah atau yang lebih populer dengan sebutan Sunan Gunungjati, Syekh Nurjati, guru dari Sunan Gunungjati, Syekh Abdullah Iman atau yang terkenal dengan sebutan Pangeran Cakrabuana, Syekh Mulyani atau yang terkenal dengan sebutan Syekh Royani yang melahirkan para ulama di Srengseng, sebuah desa yang terkenal di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Mbah Kriyan, Syekh Tholhah yang menjadi guru dari Syeikh 'Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad r.a., Syekh Jauharul Arifin pendiri Pondok Pesantren Al-Jauhariyah Balerante, Palimanan, Kabupaten Cirebon, dan tokoh-tokoh Cirebon yang lain. [9]

Contoh paham

Berikut contoh paham Sufi atau paham tasauf:

Kedudukan syariat dalam empat tingkatan spiritual

Empat tingkatan kedalaman beragama
Syari'at dalam perspektif faham tasawuf ada yang menggambarkannya dalam bagan Empat Tingkatan Spiritual Umum dalam Islam, syariat, tariqah atau tarekat, hakikat. Tingkatan keempat, ma'rifat, yang 'tak terlihat', sebenarnya adalah inti dari wilayah hakikat, sebagai esensi dari kempat tingkatan spiritual tersebut.
Sebuah tingkatan menjadi fondasi bagi tingkatan selanjutnya, maka mustahil mencapai tingkatan berikutnya dengan meninggalkan tingkatan sebelumnya. Sebagai contoh, jika seseorang telah mulai masuk ke tingkatan (kedalaman beragama) tarekat, hal ini tidak berarti bahwa ia bisa meninggalkan syari'at. Yang mulai memahami hakikat, maka ia tetap melaksanakan hukum-hukum maupun ketentuan syariat dan tarekat.
Kita semua tahu bahwa ihsan merupakan salah satu komponen agama. Ihsan dalam implementasi kehidupan, merupakan pekerjaan para ulama Ahli Tasawwuf untuk menjelaskan dan mengekspresikannya. Amal dalam konteks mereka menjadi ‘percuma’ tanpa ihasan. Sementara ihsan dalam “batasan” hadis yang langsung diajarkan oleh Jibril kepada Rosulullah SAW] di hadapan para sahabat adalah menjalankan ibadah yang selalu berfokus kepada Allah SWT, "anta’budallaha ka annaka tarohu" . Dalam al Qur’an, ada satu ayat yang menerangkan tentang tujuan penciptaan jin dan manusia. Secara jelas Allah SWT menuturkan bahwa mereka (jin dan manusia) tidak diciptakan kecuali untuk beribadah kepadaNya, "wamaa kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduniy" . Bagi orang-orang sufi, tak ada satu kegiatan pun di dunia yang tak bernilai ibadah. Dalam kaitan dengan ini, maka muncul istilah ibadah mahdloh dan ghoiru mahdloh. Jika kita sepakat, bahwa seluruh kegiatan yang kita jalani ini adalah ibadah, maka ihsan dalam setiap gerakan kita harus selalu kita tampilkan dan suasanakan. Kemudian, ihsan yang model mana yang hendak kita pahami dan lakukan. Bila ihsan merupakan renungan yang selalu kepada Allah SWT dalam setiap ibadah yang dilakukan, maka ada istilah dalam ilmu sufi yang muncul untuk memahami kondisi tersebut. Dalam hal ini, Para Ulama Sufi telah berusaha memberi pelajaran, penjabaran, batasan, dan pendidikan kepada umat tentang kondisi berihsan dengan kaidah musyahadah yang mashur. Musyahadah, secara bahasa, bermakna hal menyaksiakan Allah SWT. Dan secara kaidah sufi berarti; 1. Musyahadah bil Haq. Tingkatan Pertama ini kondisi dan batasannya adalah “melihat sesuatu dengan petunjuk tauhid”, 2. Musyahadah lil Haq. Tingkatan Kedua ini kondisi dan batasannya adalah “melihat al Haq (Allah SWT) dalam sesuatu”, dan 3. Musyahadah al Haq. Tingkatan Terakhir ini adalah “hakikat yakin yang tak ada keraguan didalamnya” . Kami menduga, bahwa Sahadat Cerbon[4] berangkat dari pemahaman semacam ini, kemudian mereka, para pendahulu Cirebon, berfikir dan membuat suatu “bacaan” yang menggiring kita kepada kondisi musyahadah yang dikehendaki. Banyak cara dan tekhnik dilakukan oleh para Sufi terdahulu untuk menerjunkan pemikiran dan perasaan dalam kondisi ihsan, musyahadah yang bernilai makrifat.[5]

Paham kesatuan wujud

Paham kesatuan wujud adalah paham yang dibawa oleh Ibnu Arabi pada abad ke-3 Hijriah. Tokoh-tokohnya antara lain adalah Ibnu Arabi, Mansur al Hallaj, dan Jalaludin Rumi. Paham ini ditolak oleh Al Ghazali dan Ibnu Taymiah.
Ketika tidak ada gerak bagimu untuk dirimu sendiri maka sempurna yakinmu, dan ketika tidak ada wujudmu bagimu maka sempurna tauhidmu. [6] Maknanya: ketika kamu fana dari wujudmu karena tidak adanya pandanganmu terhadap wujudmu sama sekali, dengan cara kamu tidak melihat wujud bagi dirimu beserta wujud Gusti-mu Yang Maha Agung dan Mulia, maka sempuna tauhidmu. Hal itu, karena kamu telah menyatakan Gusti-mu dan kamu mempertimbangkan pandanganmu didalamnya. Maka kamu melihat wujudmu, yaitu semua amalmu dari Allah swt sebagi ciptaan, maka ketika ini, kamu tidak melihat wujud kecuali Allah swt Yang Maha Agung dan Mulia. Maka ketika itu telah sempurna tauhidmu. Karena hamba selagi melihat wujud dan amalnya sendiri, maka tidak sempurna tauhidnya menurut para muwahhidiin muhaqqiqiin para petauhid sempurna. Karena dia masih melihat dirinya dapat beramal yang amal itu keluar dari dirinya. Berbeda dengan muwahhidiin muhaqqiqiin (para petauhid sempurna), dia (mereka) telah hilang dari wujud dirinya yang majazi dan rusak dengan sebab wujud Allah swt yang Maha Ada yang kekal dan hakiki. Hal itu ketika Allah swt telah memberikan kenyataan padanya tentang hakikat-hakikat, lalu dia melihat dengan cahaya Tuhan-nya yang telah dititipkan pada relung hatinya, bahwa sesungguhnya Allah swt telah mewujudkan dirinya dengan anugerah-NYA dan menolongnya dengan kasih-NYA, kemudian dia tidak melihat dalam wujud selain Allah swt dan tidak melihat kasih selain Allah swt Yang Maha Agung dan Mulia, maka sempurnalah tauhidnya. [7]
Menurut al-Banjari, kaum wujudiyyah (orang-orang yang memahami tentang wahdatul wujud) itu ada dua golongan: wujudiyyah mulhid dan wujudiyyah muwahhid. wujudiyyah mulhid termasuk golongan yang sesat lagi zindiq. Wujudiyyah muwahhid, menurut dia, “yaitu segala ahli sufi yang sebenarnya”, mereka dinamakan kaum wujudiyyah ”karena bicaranya dan perkataannya dan itikadnya itu pada wujud Allah”. Ia tidak menjelaskan isi ajaran mereka, tetapi sebagai lawan dari wujudiyyah mulhid tadi, wujudiyyah muwahhid tentu tidak menganggap bahwa Allah tidak “tiada maujud melainkan di dalam kandungan wujud segala makhluk”, atau “bahwa Allah itu ketahuan zat (esensi)-Nya nyata kaifiat-Nya dari pada pihak ada. Ia waujud pada kharij dan pada zaman dan makan”, dan tidak pula membenarkan pernyataan-pernyataan seumpama “tiada wujudku, hanya wujud Allah”, dan sebagainya, yang mencerminkan pandagan wujudiyyah mulhid itu. Keterangan al-Banjari mengenai ajaran kaum wujudiyyah mulhid itu kelihatan sangat mirip dengan keterangan ar-Raniri, yang dalam abad sebelumnya menyanggah penganut-penganut di Aceh.
Berdasarkan penjelasan ini, pada dasarnya sama dengan ajaran wahdah al-wujud Ibnu Arabi. Ajaran ini juga memandang alam semesta ini sebagai penampakan lahir Allah dalam arti bahwa wujud yang hakiki hanya Allah saja -alam semesta ini hanya bayangan- bayang-Nya. Dari satu segi, ajaran ini kelihatan sama dengan ajaran tauhid tngkat tertinggi. Kedua ajaran itu memandang bahwa wujud yang hakiki hanya satu-Allah, tetapi dari lain segi wujudiyyah muwahhid dan wihdah al-wujud ini tidak sama dengan pandangan “bahwa yang ada hanya Allah” dalam ajaran yang terakhir ini hanya tercapai dalam keadaan yang disebut fana, yakni terhapunya kesadaran akan wujud yang lain, sedang dalam ajaran wihdah al-wujud, pandangan tersebut kelihatan sebagai hasil penafsiran atas fenomena alam yang serba majemuk ini.
Di samping itu, pandangan tauhid tingkat tertinggi itu, nampaknya didasarkan atas asumsi bahwa esensi Allah yang mutlak itu dapat dikenali secara langsung, tanpa melalui penampakan lahir-Nya, asumsi ini dibantah oleh Ibnu Arabi, karena menurut dia Allah hanya bisa dikenal melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. (Naskah Klasik [9] Keagamaan Nusantara I Cerminan Budaya Bangsa, Departemen Agama RI, Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Puslitbang Lektur Keagamaan, 2005: 49-50). [10]

Kekuatan tasawuf

Tasawuf merupakan suatu kekuatan. Hal itu karena jiwa kaum sufi tiada harganya di jalan Allah. Mereka merelakan jiwa mereka untuk menegakan kalimat Tuhan. Mereka membebani diri dengan kepayahan untuk menyebarkan agama (khususnya) Islam di wilayah-wilayah Afrika dan negeri-negeri yang belum di taklukan oleh pasukan Islam. Pengaruh mereka cukup besar dalam menyebarkan Islam di negeri Melayu (Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina). Juga negeri-negeri lainnya di dunia.[10]

Tasawuf dan ilmu pengetahuan

Ilmu pengetahuan yang di zaman Yunani kuno diberi citra, bahkan diidentikkan dengan filsafat. Tasawuf sebagai ilmu juga diarahkan untuk kepentingan agama (Kristiani), baru memperoleh sifat kemandiriannya semenjak adanya gerakan Renaissance dan Aufklarung. Semenjak itu pula manusia merasa bebas, tidak mempunyai komitmen dengan apa atau siapapun (agama, tradisi, sistem pemerintahan, otoritas politik dan lain sebagainya) selain komitmen dengan dirinya sendiri untuk mempertahankan kebebasannya dalam menentukan cara dan sarana menuju kehidupan yang hendak dicapai.[11]

Kesenian sufi

Sufisme telah menyumbang cukup banyak puisi dalam Bahasa Arab, Bahasa Turki, Bahasa Farsi, Bahasa Kurdi, Bahasa Urdu, Bahasa Punjab, Bahasa Sindhi, yang paling dikenal mencakup karya dari Jalal al-Din Muhammad Rumi, Abdul Qader Bedil, Bulleh Shah, Amir Khusro, Shah Abdul Latif Bhittai, Sachal Sarmast, Sultan Bahu, tradisi-tradisi dan tarian persembahan seperti Sama dan musik seperti Qawalli.
      • Kesenian Sufi Cirebon [11]***
Di Cirebon, kesenian yang berhubungan dengan Kesenian Sufi ini adalah Brai, Gembyung, Terbang, Genjring Santri, dan lainya. Kebanyakan Jenis Kesenian yang beredar di Cirebon terkait dengan perkembangan paham tasawuf tersebut.
Beberapa buku yang telah di tulis oleh para seniman, budayawan, dan sejarahwan Cirebon menguatkan anggapan ini. Buku-buku yang memuat tentang kesenian Cirebon yang berakar pada ajaran tasawuf ini diantaranya adalah Budaya Bahari Sebuah Apresiasi di Cirebon yang di tulis oleh Rokhmin Dahuri dkk pada tahun 2004 dan di cetak oleh PNRI. Selanjutnya buku Deskripsi Kesenian Cirebon yang di susun oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kaupaten Cirebon yang salah satu anggota penyusunnya adalah Bapak Kartani. Dalam banyak kesempatan Kartani selalu menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena media kesenian sangat cocok untuk berdakwah pada saat itu Mertasinga 2004.
Jika seni dan kesenian dijadikan sebagai media dakwah, maka sangat munfisme/tasawuf yang selalu menitik beratkan pada niat baik dalam segala aktiitas yang dijalnkannya. [12]
tasawuf itu sulit didefinisikan agar dapat dipahami dengan mudah

Lihat pula